Tolok ukur kebenaran dalam FILSAFAT LOGIKA

Oleh         : Bona Pablo

1. TOLAK UKUR KEBENARAN

Kriteria mengenai kebenaran merupakan suatu tolak ukur atau ketentuan yang diguanakan untuk menguji ketelitian mengenai pernyataan-pernyataan dan pendapat-pendapat. Tujuannya untuk menemukan fakta-fakta atau mengevaluasi argument individu. Ada bebrapa hal yang bisa dijadikan sebagai tolak ukur kebenaran, diantaranya:

a. Firasat atau prasangka

Firasat adalah suatu generalisasi menurut kata hati yang mungkin sekali didasarkan pada dugaan yang samara-samar dan tidak menentu serta sukar untuk dianggap sebagai criteria kebenaran yang bisa diterima secara umum. Intuisi criteria ini terdiri dari pertimbangan tanpa mengambil jalan lain berupa berfikir logis berdasarkan fakta-fakta yang merupakan kebenaran semu yang timbul dari sumber yang tidak dikenal atau belum diselidiki. Banyak orang mendapat pengetahuan yang dalam secara intuitif yang kemudian terbukti benar, sehingga intuisi ini tidak dapat begitu saja disangka sebagai sumber yang tidak representative, melainkan harus dilihat secara lebih luas dalam kaitan dengan tahap-tahap penelitian selanjutnya yang diilhami oleh intuisi tersebut.

b. Mengungkap rahasia

Pengungkapan rahasia dapat dikatakan sebagai suatu pencapaian kebenaran atau pengungkapan yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa. Perbedaan antara intuisi dan pengungkapan rahasia adalah kenyataan bahwa sumber intuisi itu tidak diketahui, sedangkan simber dari pengakuan rahasia dianggap bersumber pada Tuhan sendiri. Seorang indivudi dapat menerima pengungkapan rahasia ini sebagai sumber kebenaran-kebenaran, namun ia tidak dapat menyadarkan diri pada pengalaman seperti itu sebagai cara mendemonstrasikan pada orang lain keabsahan kepercayaannya.

c. Peraturan atau ketentuan mayoritas

Di Negara yang menganut demokrasi, suara mayoritas dianggap sebagai pedoman keputusan bersama. Walaupun suara mayoritas merupakan tata demokrasi yang baik, namun bukan merupakan system terbaik untuk menentukan kebenaran. Kebenaran ilmu bukanlah kebenaran yang dicapai dengan demokrasi atau suara mayoritas. Kebenaran ilmiah adalah kebenaran nyata yang harus selalu digali dan membuka kritik yang bersandar pada kenyataan.

Jelaslah disini, bahwa tolak ukur kebenaran adalah suatu sarana baku untuk menguji kebenaran dari kekeliruan atau kesalahan yang merupakan tolak ukur atau peraturan atau ketentuan yang berlaku dalam dunia ilmu pengetahuan.

2.        KONSENSUS GENTIUM (keabsahan konsunsus umum)

Konsensus gentium adalah opini suara terbanyak manusia yang bulat (universal) maupun consensus umum yang dianggap sebagai sesuatu yang sah, yang tidak dapat dijumpai dalam keputusan-keputusan mayoritas.

a. Realisme yang tidak di buat-buat

Menurut realisme yang tidak dibuat-buat, benda-benda berada dalam realitas seperti yang tergambar dalam indera manusia. organ-organ indera manusia menentukan kebenaran atau kepalsuan benda-benda serta kesimpulan-kesimpulannya dengan tunduk pada observasi pertama kali yang dapat diuji atau dibuktikan kebenarannya. Realisme yang tidak dibuat-buat merupakan criteria yang kurang memadai tentang kebenaran apabila dihubungkan, misalnya: kebenaran-kebenaran ilmiah sering melampaui ruang lingkup indera manusia. sinar “X”, gelombang cahaya, reaksi-reaksi kimia, dan sekumpulan besar gejala alam lainnya tidak dapat dilihat atau dirasakan oleh indera kita, walaupun dapat dimengerti dan dapat diperagakan secara nyata.

b. Persesuaian

Criteria persesuaian menegaskan bahwa suatu ide yang sesuai dengan objeknya haruslah benar. Persesuaian tampak sebagai criteria terbaik yang disajikan di atas, dan banyak filsauf menganggapnya sebagai tes-tes tentang kebenaran yang sah, namun seperti yang lain, criteria ini juga mendapat kritik yang bersifat berlawanan. Kitaq masih perlu mengadakan pengujian yang dapat mengungkapkan tingkat yang cermat mengenai kemiripan antara apa yang kita pikirkan dan apa sebenarnya yang ada, sebagai cirri penerapan ukuran persesuaian.

c. Otoritas

Criteria ini dipandang memiliki otoritas atau kewenangan yang dapat diandalkan karena ia sangat memahami dan menguasai mata pelajaran tertentu. Walaupun otoritas atau kewenangan sering merupakan criteria yang baik mengenai kebenaran yang luas dan berhasil guna dalam penggunaannya, misalnya dipengadilan, criteria ini masih jauh dari sempurna, karena sering terjadi dua ahli yang berwenang memberikan bukti yang berlawanan satu sama lain karena keyakinan mereka berbeda.

Konsenus gentium mengandung arti sebagai opini suara banyak manusia secara universal yang berbeda dan tidak ditemukan pada keputusan mayoritas seperti yang telah dipaparkan diatas.

3. KRITERIA PRAGMATIS TENTANG KEBENARAN

Bagi seorang pragmatis yang mengutamakan manfaat, sebuah fikiran yang berhasil adalah fikiran yang benar. Dengan kata, dapat bekerjanya suatu ide menentuan kebenaran. Arti sepenuhnya suatu ide haruslah ditemukan dalam akibat-akibat yang timbul dalam penerapannya. Kendatipun pragmatisme memberikan criteria berguna mengenai kebenaran, criteria tadi harus ditinjau dengan keberatan-kebaratan yang menguji secara cemat dan digunakan dengan hati-hati. Tidak semua ide yang tampak dan bisa bekerja aladah benar.

Betapapun juga terdapat keabsahan dalam pragmatisme sebagai suatu criteria, setidak-tidaknya keabsahan seperti yang digolongkan sebagai pragmatisme negative (oleh William Ernest Hocking). Singkatnya, asas tadi mengatakan bahwa apabila suatu ide tidak bekerja, maka tidak mungkin akan benar, mengingat bahwa kebenaran selalu bekerja (kendatipun demikian ada kalanya apa yang tampak bekerja dengan baik mungkin juga tidak benar).

Dari paparan di atas sudah terlihat bahwa pragmatisme mendapat nilai dan penghargaan untuk menjadi tolak ukur bagi kebenaran, karena makna pragmatis adalah hasil dari suatu penjabaran ide yang berupa manfaat bagi kepentingan manusia atau kelompok manusia yang mencetuskan ide tersebut. Penerapan ide dan ajaran hukum sebagai sarana kritik sosial.

4. KRITERIA KETEGASAN YANG KERAS

Criteria ketegasan yang keras mempunyai cara berfikir matematis dan logika formal. contohnya berikut: Apabila milik A adalah milik B dan semua milik B adalah milik C, maka semua milik A adalah milik C. nilai dari ketegasan yang keras harus diberikan, betapapun bidang dimana cara berfikir bentuk ini bisa diterapkan adalah terbatas. Selain itu daasr pemikiran tadi bisa diterima sebagai benar, namun untuk menentukan keakuratannya memerlukan criteria lain mengenai kebenaran.

Criteria ketegasan yang keras ditandai warna matematis dan logis, sehingga bisa dipaparkan dengan prinsip-prinsip logika yang antara lain dapat disusun berdasarkan pengarahan kebenaran dengan penarikan kesimpulan dari mayor, minor, dan konklusi yang mantap, yang didukung oleh criteria yang lain untuk saling mengisi. Untuk itu perlu adanya pertalian yang serasi dan harmonis. Betapapun, criteria ketegasan yang keras akan merupakan inspirasi yang penting dalam rangka menggali tolak ukur kebenaran yang bersifat aneka ragam yang dibutuhkan dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

5. BAHAN PEMIKIRAN YANG KELIRU

Bahan penting dalam ilmu logika selanjutnya yaitu membahas kekeliruan material, yakni cara-cara yang keliru dalam cara berfikir tentang fakta-fakta. Kekeliruan yang memprihatinkan telah digolongkan sebagai bahan, yaitu kekeliruan yang terletak pada isi factual yang berdasarkan kenyataan argumentasi dan tidak terletak pada strukturnya, namunn tampaknya berguna untuk yang lain, namun harus waspada terhadap adanya kemungkinan kekeliruan dalam setiap argument.

Kemampuan mendeteksi kekeliruan tidak hanya tuntutan dan syarat penguasaan yang harus dimiliki oleh para ahli logika saja, melainkan pula merupakan syarat penting yang membuatnya lebih lanjut dengan cara tertentu. Berikut adalah sub-klasifikasi untuk menelaah kekeliruan tersebut:

a.       kekeliruan bahasa dan permainan kata-kata

b.      kekeliruan pembuktian yang tidak relevan

c.       aneka ragam kekeliruan yang termasuk dalam sejumlah besar klarifikasi lain, yang tidak mudah memberikan kemungkinan untuk pembagian lebih lanjut.

6. KEKELIRUAN BAHASA YANG EMOSIONAL

Kata-kata emosional sebagai kekeliruan bahasa merupakan gejala yang agak umum yang terdapat dalam pergaulan hidup. Banyak contoh-contoh tentang hal ini, misalnya “ku bunuh kau!!!”, padahal kata-kata itu terlontar untuk meluapkan emosi saja. Contoh seperti tadi merupakan sebagai bukti bahwa emosi seseorang bisa menimbulkan kurangnya pengendalian atas dirinya yang dapat berbentuk tindakan dan ucapan. Hal demikian akan mengakibatkan rasa tidak nyaman bagi orang lain karena lontaran bahasa yang keliru tersebut. Sikap emosional seperti contoh tadi dapat membawa pengaruh yang tidak diharapkan, terutama secara ilmiah karena emosi akan lebih mewarnai subjektivitas, dan subjektivitas tidak mapan lagi bagi kebenaran ilmiah, apalagi dampak negative yang bisa mengena pada objek yang dibicarakan. Namun demikian, penguasaan atas kekeliruan bahasa yang disebabkan emosi seseorang akan merupakan pengetahuan yang bisa mempengaruhi sehingga orang lebih bijaksana dan senantiasa memperhatikan hal yang benar serta yang seharusnya.

7. KEKELIRUAN KARENA MENGANDUNG ARTI GANDA

Kekeliruan karena kegandaan arti menyangut masalah penggunaan istilah-istilah yang goyah atau lemah pendefisiannya. Arti yang samar-samar akan menunjukkan aneka ragam buah fikiran, dan tak ada satupun yang bisa dijelaskan dengan tepat, baik melalui definisi kata-kata atau melalui konteks. Ada sementara ahli logika yang menganggap semua kekeliruan bahasa sebagai aspek-aspek kekeliruan karena kegandaan arti. Contoh kegandaan arti dapat disebabkan oleh istilah-istilah yang goyah atau lemah rumusan dan batasannya, misalnya; orang dapat menumpuk kekayaan walaupun dirinya tidak membutuhkannya. dan lain-lain. Pokoknya istilah-istilah yang disusun tanpa tujuan yang matang bagi tercapainya tujuan dapat membawa arti ganda yang bisa menimbulkan presepsi di luar yang diharapkan. Keahlian untuk menguji dan mengkaji apa yang dimaksud adalah ketrampilan yang dibutuhkan bagi para ilmuwan dan filsuf, sedemikian rupa sehingga apa yang dinyatakan adalah tegas. Presepsi atas kalimat yang jelas dan tegas arti maknanya mendapat persepsi dan tanggapan yang jelas dan tegas pula sehingga dapat membantu pengujian dan pengkajian atas kebenaran.

8. KEKELIRUAN KARENA MENGANDUNG ARTI SAMA

Penggunaan istilah untuk lebih dari satu arti, sedangkan kesan diberikan bahwa itu ndigunakan untuk mengatakan hanya sati arti yang sama sepanjang perdebatan, dikenal sebagai kekeliruan memberikan arti serupa. Kekeliruan ini adalah akibat dari praanggapan yang salah bahwa kata itu digunakan sepanjang diskusi tertentu untuk memberikan arti tunggal. Misalnya dalam argument berikut: “Amerika Serikat adalah luas“. “Luas” adalah kata sifat. Dalam bahasa Inggris “adalah” (is) dapat diartikan “sama dengan”. Pentinganya ketetepan penggunaan istilah mencerminkan adanya kaitan yang erat antara pemikiran filsafat dan bahasa sebagai sarana komunikasi penting dalam pembentukan konsepsi dan oposisi, sehingga oleh karenanya upaya menghindarkan kekeliruan khusus yang berkait dengan pilihan kata yang tepat sebagai jalan keluar untuk mengatasi kemungkinan kekeliruan karena memberi arti sama dari salah satu istilah dihadapkan dengan tanggapan dan persepsi yang aneka ragam dimensi dan proporsinya.

9. KEKELIRUAN YANG AMFIBOLOGIS

Amfibologi berasal dari kata “amfibi” yang berarti bisa hidup dalam dua alam, yaitu hidup di darat dan di air. Amfibologis berbeda dengan kekeliruan karena memberi arti yang sama dalam dua hal penting dapat dibedakan sebagai berikut;

a.       amfibologi menyangkut seluruh argument, sedangkan kekeliruan karena memberi arti yang sama terbatas hingga istilah-istilah yang tunggal saja.

b.      Seluruh argument bersifat mudah terkena penafsiran ganda dan strukturnya bukan karena salah penggunaan oleh peserta debat misalnya; amfibologi sering dihubungkan dengan pemakaian kata yang menentukan sifat yang salah penempatannya. “ingin menjual: kursi tinggi untuk bayi dengan kaki patah”. Dalam iklan mini ini, mana yang patah, kursinya atau kaki sang anak? Banyak lagi contoh yang lain.

Sering tindakan kekeliruan tersebut digunakan dan dimanfaatkan untuk suatu tindakan yang tidak benar, namun karena sifat yang amfibi tadi sulit untuk menyalahkan yang tidak benar tadi sekalipun telah jelas bahwa itu dirasakan salah oleh yang bersangkutan.

10. KEKELIRUAN KARENA STRUKTUR BAHASA

Suatu peringatan penting untuk kehati-hatian dalam menghadapi kekeliruan yang berhubungan dengan bentuk bahsa seperti juga yang sudah lama ditemukan Aristoteles dalam bahsa Yunani. Untuk menggali kebenaran diingatkan kembali dengan sangat termasuk dalam gejala bahasa yang kekeliruannya bisa terjadi karena terselubung dan halusnya kata dalam kalimat. Kehati-hatian dalam bentuk bahasa merupakan pula sarana penguji dalam rangka mencari dan menggali tolak ukur kebenaran.

11. KEKELIRUAN DALAM KOMPOSISI ATAU SUSUNAN KALIMAT

Anggapan yang keliru bahwa ucapan mengenai bagian yang integral yang tak terpisahkan dari sesuatu adalah berlaku bagi keseluruhan komposisi yang dikenal sebagai kekeliruan dalam susunan kata-kata. Kekeliruan ini menyangkut pernyataan-pernyataan tentang benda-benda yang merupakan bagian dari suatu keseluruhan, bukan keterangan mengenai benda-benda yang dianggap sebagai kesatuan yang terpisah. Kekeliruan tadi terdiri dari cara berfikir yang salah mengenai fakta-fakta mengenai seluruh kelas tadi. Perhatikan contoh berikut: “suatu orkes yang terdiri dari pemain solo paling terkenal di dunia akan merupakan group musik terbaik di dunia”. Suatu orkes merupakan team pemain musik, masing-masing memberikan dukungannya yang tepat bagi keseluruhan, bukan sekedar sekumpulan individu primadona, yang masing-masing memainkan musik solo secara sendiri-sendiri yang bebas dari usaha kelompok. Maka kalimat ini jelas baik dalam susunan tetapi keliru dalam maknanya. Kekeliruan tersebut terjadi karena tidak memperhatikan istilah seperti musik yang seharusnya adalah komposisi dari regu atau kelompok malahan ditentukan indah tidaknya dari pemain solo yang individual.

12. KEKELIRUAN DALAM PEMBAGIAN

Perhatikan contoh berikut; “California penanam anggur terbaik di dunia, oleh karenanya amggur California yang saya makan harus merupakan anggur terbaik di dunia”. Contoh tersebut merupakan pernyataan yang menggambarkan kekeiruan dalam pembadian. Dalam kalimat tadi ditemukan keganjilan dan kekeliruan yang disebabkan karena usaha untuk mencegah kemungkinan adanya anggur yang telah busuk, yang akan mempengaruhi kalimat yang  pertama, yaitu bahwa California merupakan penanam anggur tebaik di dunia. Dari contoh diatas kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa dalam menyusun kalimat haruslah kita berhati-hati, apabila tidak hati-hati kekeliruan akan terjadi dan dapat segera membantah atau menggugurkan apa yang sebenarnya dimaksud.

13. KEKELIRUAN MENGENAI ABSTRAKSI YANG TAK BERUJUNG PANGKAL

Kekeliruan berikutnya adalah yang berhubungan dengan melepaskan sesuatu yang pernyataan dari konteksnya untuk mengubah arti suatu argument yang dikenal sebagai kekeliruan dalam abstraksi yang tak berujung pangkal. Banyak ucapan atau pernyataan yang mudah dan  secara kritis dapat diubah sekedar dengan mengurangi konteks tadi. Ini dapat melemahkan pernyataan tadi dan merusak artinya. Dibawah ini adalah salah satu contoh mengenai kekeliruan ini;

–                                      Francis Bacon berkata: “filsafat membuat fikiran orang cenderung kepada atheisme” (sedikit pengetahuan tentang filsafat membuat orang cenderung kea rah atheisme, namun mendalami  filsafat membawa fikiran manusia kea rah agama). Pernyataan semacam ini pun cukup menimbulkan masalah yang memprihatinkan, apabila secara apriori hanya dipotong pada tekanan penjelasan ini karena seolah-olah semua filsuf adalah atheis, justru itulah kekeliruan yang berhubungan dengan abstraksi yang berujung pangkal merupakan pula suatu pernyataan yang keliru yang dapat menyesatkan sekalipun dihubungkan dengan tujuan yang terkandung.

14. KEKELIRUAN TENTANG BUKTI YANG TIDAK RELEVAN

a. Kekeliruan Relevansi

Untuk membuktikan atau menyangkal  pendapat yang salah merupakan kekeliruan mengenai ketidakrelevanan, sering disebut sebagai menarik kesimpulan yang tidak relevan atau bahasa Latinnya “Ignoratio chenchi”. Kekeliruan karena tidak eleven dapat memperdayakan sekali karena penyajiannya tampak sangat meyakinkan, namun mengaburkan fakta tentang pertanyaan yang berbeda dengan sesungguhnya yang dibahas. Misalnya dalam kasus pembunuhan, jaksa yang bersalah karena kekeliruan dalam relevansi, apabila bukannya membutikan kesalahan terdakwa karena membunuh, ia melah membuktikan bahwa terdakwa melakukan kejahatan lain. Hal ini cukup membingungkan.

b. Argumentum Ad Ignorantiam (tuntutan terhadap pengabaian)

Kekeliruan karena tuntutan terhadap pengabaian mempunyai beberapa bentuk. Dalam bentuk yang satu dianut anggapan apa yang mungkin benar. Dalam bentuknya yang kedua dianut anggapan bahwa suatu tesis tertentu adalah benar semata-mata karena tak seorang pun yang bisa membuktikan ketidakbenarannya (sudah barang tentu pembuktian harus  dipikul oleh individu yang mengajukan tesis tadi, dan bukan oleh lawannya). Dalam bentuk ketiga dianut anggapan bahwa seluruh argument dapat rusak, semata-mata dengan menyangkal bagian argument yang tidak esensial. Salah satu contohnya adalah; “gejala psikis atau kejiwaan adalah fakta karena tak seorang pun yang dapat menyangkalnya secara mutlak”.

c. Argumentum Ad Misericordiam (menuntut belas kasihan)

Kekeliruan ini menghindari pendapat yang bersangkutan dan mengajukan tuntutan yang sama sekali tidak emosional. Seringkali terjadi orang yang tidak mampu untuk menyebutkan fakta-fakta relevan untuk mendukung klaimnya mungkin akan minta simpati (seorang advokat mungkin tergoda untuk melakukan hal ini ketika ia membela kliennya di hadapan dewan juri). Walaupun demikian, ada sementara ahli logika yang menekankan bahwa dalam keahlian tertentu argumentum ad misericordiam ini merupakan argument yang sah.

d. Argumentum Ad Verecundiam (permohonan bagi prestasi)

Permohonan bagi penghargaan maupun prestasi dengan bukti. Usahanya dilakukan untuk memeproleh dukungan bagi suatu ide atau usul dengan menghubungkannya dengan individu-individu yang sangat terhormat, atau lembaga-lembaga ayng dipersucikan. Memang benar bahwa menghargai orang maupun lembaga adalah perbuatan mulia, namun pembenaran mereka bagi suatu tesis tidak boleh digunakan untuk segala bukti. Suatu cara berfikir keliru corak yang sama dapat mengurangi dorongan terhadap kepercayaan dalam suatu kewibawaan yang dibahas sebagai kebenaran. Contohnya; “saya mempunyai ide yang luar biasa yang harus anda terima karena dapati itu dari seminar Universitas Oxford”. Contoh tersebut jelas tentang pemohonan bagi perestasi yang memanfaatkan suatu kewibawaan dari sesuatu yang berprestasi atau status.

e. Argumentum Ad Baculum (permohonan bagi kekuatan)

Permohonan bagi kekuatan (pakah kekuatan tadi jelas atau semu) sebagai subtitusi bagi logika yang bersangkutan dikenal sebagai argumentum ad baculum, yaitu argument melalui alat pemukul atau pentungan, dengan berpendapat bahwa sebuah tongkat yang ditekankan di atas kepala seorang lawan akan memaksa orang itu untuk menerima pandangan baru tadi. Kekeliruan tersebut nyata dalam pernyataan sebagai berikut; “pak, saya tidak percaya akan altruisme (sifat mementingkan keperluan orang lain)” maka sang ayah menjawab: “kau harus, atau saya tidak akan beri kau hadiah pada hari ulang tahunmu”. Pada contoh tersebut menonjolkan kedudukan dan kepentingan pribadi.

f. Argumentum Ad Hominem (permohonan bagi ejekan perorangan)

Kekeliruan karena mengeluarkan atau menyelewengkan argument dari pokok yang sedang dibahas terhadap perorangan dari seorang lawan dikenal sebagai argumentum ad hominem. Bukannya membahas tesis lawan mengenai jasanya, argument yang keliru ini menyerang reputasi dan watak moralnya, atau mengetahui kecerdasannya yang renadh, posisi social yang rendah, kurang berpendidikan, dan kekurangan-kekurangan perorangan yang serupa. Kekeliruan ini digambarkan melalui pernyataan berikut; “jangan membungkuk untuk berdebat dengan orang ini, karena ia tidaklah lain daripaa seorang biadab yang dingin“.

g. Argumentum Ad Populum (pemohonan kepada massa)

Argument yang keluar dari relnya atau masalahnya yang sedang dibahas dengan mengajukan permintaan terhadap perasaan dan prasangka orang banyak dikenal sebagai kekeliruan ad populum. Argument ini sering mengambil bentuk menyetujui suatu permohonan bagi patriotisme, atau terdiri dari permohonan-permohonan negative terhadap perasaan-perasaan superioritas dan rasial maupun prasangka agama. Kaum Nazi Hitler dan Fasis Musolini menggunakan bentuk-bentuk kekeliruan ini sebagai teknik dasar propaganda mereka, menggabungkan permohonan tadi dengan janji-janji harta dan kekuatan bagi para pendukungnya yang setia.

15. KEKELIRUAN MATERI YANG RAGAM

a. Kekeliruan karena kebetulan (Dicto Simpliciter)

Kekeliruan ini terjadi karena usaha untuk menerapkan peraturan umum bagi kasus-kasus istimewa yang merupakan kekecualian dari peraturan yang ada, yaitu untuk membuat pernyataan-pernyataan universal tentang hal-hal yang untuk peraturan tadi tidak selalu berlaku. Adalah suatu kesalahan apabila diabaikan fakta dengan membolehkan adanya kekecualian-kekecualian. Lebih jauh lagi, suatu peraturan dapat dianggap sah hanya apabila terdapat atau berlaku syarat-syarat tertentu, dan perbedaan keadaan membuat peraturan tadi tidak bisa diterapkan bagi kasus-kasus tertentu. Contohnya; “pencurian adalah kejahatan; mengingat bahwa bangsa Sparta membolehkan pencurian, maka bangsa tersebut seluruhnya pasti terdiri dari para penjahat“.

b. Kekeliruan bercakap-cakap secara kebetulan

Kekeliruan corak ini disebut juga kekeliruan dalam contoh-contoh terpilih atau kekeliruan karena generalisasi secara terlalu cepat atau tergesa-gesa yang terdiri dari usaha untuk menetapkan generalisasi dalam ketentuan ilmu dengan memperoleh jumlah yang tepat mengenai keadaan tertentu. Dengan perkataan lain kesimpulan ditarik sebelum semua keadaan khusus tadi diperhatikan. Contoh kekeliruan ini adalah; “semua orang genius adalah orang yang aneh. Saya tahu karena kelima orang genius pertama yang saya wawancarai adalah sangat aneh“. Kekeliruan tersebut terletak pada kegagalan untuk memperoleh contoh yang adil dan tepat mengenai orang-orang genius tadi.

c. Sebal yang keliru (Post Hoc)

Kekeliruan mengenai sebab yang keliru atau yang dalam bahasa Latin disebut Post Hoc terdiri dari cara berfikir mulai dari urutan semata-mata hingga akibat, yaitu mulai dari apa yang semata-mata terjadi dalam urutannya hingga kepada asumsi hubungan kausal. Kenyataan A mendahului B tidak usah selalu membuat A sebab dari B. Kesalahan kausal tanpa dasar-dasar yang cukup; untuk alasan ini kekeliruan tersebut sering diartikan sebagai post hoc ergo propter hoc (setelah ini dan oleh karenanya konklusi tersebut). Perhatikan contoh berikut; “Marry berkata: apabila saya ingat untuk mengetuk kayu, maka saya tidak pernah sakit; oleh sebab itu mengetu kayu mencegah penyakit“. Contoh tadi menunjukkan kesimpulan dan penetapan yang keliru. Namun hal ini sering ditemukan pada masyarakat tradisional, umpamanya dibidang pertanian yang berlaku cara-cara yang sudah merupakan tradisi, sehingga apabila suatu saat ditempuh cara lain dan kebetulan gagal, maka warga masyarakat itu akan menganggap bahwa penyimpangan dari cara tradisi selalu akan gagal sekalipun pada kenyataannya tidak demikian.

d. Non Sequitur (itu bukan akibat daripadanya, atau kekeliruan sebagai akibat)

Perbedaan antara post hoc dan kekeliruan non sequitur adalah bahwa kekeliruan post hoc disebabkan oleh kurangnya hubungan kausal, dalam kekeliruan non sequitur kesalahan tadi disebabkan oleh kurangnya hubungan logika. Suatu argument non sequitur harus juga dibedakan dari kesimpulan yang tidak relevan, dimana pernyataan yang dibuat tadi menyangkut pernyataan yang berbeda dari penyataan untuk dibahas. Dalam argument non sequitur semua pernyataan bisa relevan, namun kaitannya yang diatur secara logis terlepas. Contohnya; “apabila pria memerlukan waktu dua puluh menit untuk menempuh jarak satu mil, wanita harus mampu hidup lebih lama lagi daripada pria“.

16. PERTANYAAN-PERTANYAAN MAJEMUK

Ada kekeliruan yang dikenal sebagai kekeliruan pertanyaan-pertanyaan berganda, atau majemuk. Kekeliruan ini terdiri dari penggabungan beberapa pertanyaan sedemikian rupa, sehingga menghindarkan semua argument yang menentang yang menempatkan suatu lawan pada posisi yang memberatkan. Beberapa asumsi secara tidak langsung tercermin dalam pertanyaan-pertanyaan berikut;

a.       Mengapa kau aniaya anak tak berdosa ini?

b.      Sudahkah kau berhenti memukuli isterimu?

c.       Bagaimana kau mempertanggungjawabkan ketololanmu?

d.      Mengapa saya selalu benar, sedangkan kau selalu salah?

e.       Mengapa gerangan kau membohongi kawan terbaikmu?

17. POTITIO PRINCIPII

Kemungkinan tidak ada kekeliruan lain yang mengandung berbagai nama seperti potitio principii, yang etrdiri dari pelbagai bentuk berfikir dalam lingkaran, gagal untuk membuktikan tesis yang semula dikemukakan dan menggunakan tesis asli sebagai pembuktian sendiri. Istilah-istilah biasa dalam kekeliruan ini adalah berfikir secara lingkaran, lingkran dalam pembuktiannya, dan berdebat dalam lingkaran pula. Untuk dapat membuktikan bahwa A adalah benar, B dipakai sebagai bukti; anmun karena B memerlukan dukungan, C dipakai dalam pembelaan terhadap B, tetapi C juga memerlukan bukti yang perlu diperkuat oleh A.

18. TU QUOQUE (kau sendiri yang melakukan)

Apa yang baik bagi orang yang satu belum tentu baik bagi orang lain. Apabila kondisinya identik, argument “tu quoque”. Ini dapat digunakan sebagai pembelaan yang efektif, namun suatu kekeliruanlah yang terjadi apabila kedua situasi yang diperbandingkan tidak identik atau apabila tindakan-tindakan kedua belah pihak dianggap sebagai tidak dapat dipertahankan. Contoh; “apabila seseorang spesialis jantung bisa membohongi pasiennya, maka saya berhak untuk membohongi guru saya”.

Bila kedua argumn dipadukan dalam suatu pegertian yang seharusnya mengandung syarat identik, maka terjadilah kekeliruan. Maka jelas dalam tu quoque akan senantiasa terjadi perdebatan seru, masing-masing tampaknya berada pada posisi yang kuat dan benar, karena apa yang dikemukakan ditopang oleh alasan sendiri tanpa memperhatikan keadaan lawan. Demikian terjadi sebaliknya, sang lawan terus dengan lancarnya mengemukakan argument menurut versinya sendiri. Dengan demikian, sampai kapan pun tidak akan ada titik temu karena apa yang dibicarakan tidak dalam satu kaitan yang diperlukan keputusan.

19. KEKELIRUAN DALAM HAL SALAH MENEMPATKAN OTORITAS

Pembahasan mengenai kewibawaan atau otoritas merupakan sumber atau criteria kebenaran yang menyarankan bahwa setiap ahli dan pendapatnya menghargai kepercayaan dan rasa hormat, apabila itu dikaitkan dengan bidang keahlian khususnya. Dalam gejala ini tampak kepercayaan kepada orang terhormat yang memiliki otoritas karena spesilisasi yang sangat menonjol. Di bidangnya ia bisa dipercaya dan pendapatnya menjadi bahan argumentasi, tetapi haruslah hati-hati untuk argument yang bukan spesialisasinya. Apabila hal ini diterapkan maka akan terjadi kekeliruan yang bisa berpengaruh luas. Bahwa memang seorang dapat memperoleh otoritas untuk bisa meyakinkan pendapatnya mengenai bisang spesialisasinya yang dikembangkan dan untuk memperoleh pengakuan. Tetapi perlu dicampakkan bahwa otoritas yang tumbuh adalah terbatas pada bidang spesialisasi tidak bersifat umum. Kewibawaan sebagai ahli khusus pada suatu bidang tertentu memang dihormati sebagai orang yang terhormat, namun pernyataan si ahli ini untuk bidang-bidang lain tidak otomatis harus diterima seperti orang menerima pendapat bidang spesialisasi yang dikuasai ahli tersebut. Dapatlah disimpulkan bahwa otoritas terbatas pada bidang khusus yang sudah dikenal dan diakui secara umum.

20. GENETIC ERROR (kesalahan genetic)

Kekeliruan genetic mengacaukan keabsahan mengenai sebab musabab suatu tesis. Salahlah kiranya apabila beranggapan bahwa suatu argument haruslah salah semata-mata karena bisa dijajaki kembali untuk menekan munculnya perasaan takhayul, pengabaian, dan magis. Sumber dari suatu argument tidaklah relevan sepanjang yang menyangkut pembuktian atau penyangkalan. Pernyataan bahwa lima ditambah lima adalah sepuluh dan bahwasanya korbon monoksida (CO) adalah racun tetap benar dan secara logis sah, apakah itu dinyatakan oleh seorang gila ataupun individu yang normal. Kekeliruan genetic biasanya sukar dapat terasa karena lama dan adaptasinya dari sejak lahir. Namun melalui upaya deteksi yang cermat hal tersebut bisa terungkap secara relative cepat, sebab dalam kewajaran karena lamanya anggapan itu berlangsung tetap tersirat kekeliruan.

21. ANALOGI YANG IMITATIF

Argumen-argumen yang mirip satu sama lain dalam berfikir secara logis dikatakan sebagai analogi. Apabila sebuah argument diterima sebagai sesuatu yang sah, maka yang lain-lain yang meliputi garis berfikir yang serupa atau hampir sama juga diterima. Namun setiap perbedaan penting antara dalil-dalil bisa merusak analogi dan melemahkan kesimpulan-kesimpulannya. Perhatikan analogi yang tidak benar dalam pernyataan berikut; “wanita bisa jadi anggota kongres yang lebih baik daripada anggota pria, pemerintah adalah semata-mata ibu rumah tangga yang baik“. Analogi ini tidak benar karena terdapat perbedaan-perbedaan besar antara administrasi urusan pemerintahan dan pengelolaan rumah tangga pada diri seorang wanita.

Untuk menghindarkan analogi yang semu dan imitative diperlukan penegasan tentang syarat-syarat analogi, yang dapat menolok secara meyakinkan analogi yang imitative yang dapat berakibat lain daripada tujuan dilakukannya analogi untuk tujuan tertentu yang memang memerlukan dilakukannya analogi. Dalam bidang hukum, analogi dilakukan dalam penafsiran isi suatu undang-undang.

22. BUKTI YANG TIDAK CUKUP

Kekeliruan yang cukup sederhana untuk bisa diketahui adalah kekeliruan yang terkenal sebagai kekeliruan karena bukti yang tidak cukup yang menyangkut penerimaan data yang tidak memadai sebagai dasar untuk mengambil kesimpulan. Sebagai contoh, dalam percobaan pembunuhan, hakim dapat mengingatkan dewan juri bahwa bukti yang menunjukkan bahwa senjata yang dipakai pembunuh itu milik pembunuh, tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa ia menggunakannya untuk melakukan kejahatan. Dalam kasus ini bisa saja terjadi kekeliruan karena bukti yang ada dihubungkan dengan peristiwa dan latar belakang atau motivasi pembunuhan yang masih kompleks.

23. KEKELIRUAN YANG MENYEDIHKAN (anthropo morphisme)

Kekeliruan yang menyedihkan ini dianggap berasal dari perasaan-perasaan manusia dan kualitasnya rendah sehingga sederajat dengan hewan yang bukan manusia atau dengan benda-benda mati. Memang benar bahwa beberapa ciri adalah biasa bagi manusia ataupun binatang lain. Namun ciri yang menonjol dari species manusia tidaklah dapat dijadikan sifat bagi kesatuan bukan manusia, seperti contoh berikut; “laut yang murka memandang dengan amarah ke langit”. Nyatalah laut tidak bisa melihat  kemana-mana, juga tidak dapat dikatakan sebagai tergoda secara emosional. Maka kekeliruan semacam ini dianggap menyedihkan atau yang bersifat anthropo morphisme yang berhubungan dengan perasaan-perasaan manusia beserta kualitasnya, diterapkan secara sama rata terhadap benda-benda mati atau makhluk lain yang bukan manusia.

24. BERLAWANAN DENGAN KEKELIRUAN BERDASARKAN FAKTA

Kekeliruan semacam ini mengubah kenyataan sejarah dan kemudian menarik kesimpulan-kesimpulan dari padanya. Akan tetapi kesimpulan-kesimpulan yang ditarik dari dalil-dalil tidak bisa diterima sebagai sesuatu yang sah. Kesimpulan-kesimpulan logis tidak dapat ditarik dari perkiraan sejarah, melainkan hanya dari data yang bisa diterima kebenarannya oleh sejarah. Kekeliruan digambarkan dalam pernyataan sebagai berikut; “apabila pihak Selatan memenangan perang saudara, maka perbudakan akan merajalela di Utara masa kini“. Sebenarnya tidak seorang pun yang dapat mengatakan apa yang pasti bakal terjadi, adalah fakta-fakta sejarah yang bisa menentukan hasilnya.

25. DALIL-DALIL YANG BERTENTANGAN

Kontradiksi sudah tentu keliru; akibatnya apabila suatu argument mengandung dalil-dalil yang saling bertentangan atau berlawanan atau terjadi kontradiksi, kesimpulan tidak akan mungkin bisa ditarik karena tidak membentuk suatu kebulatan pikiran yang integral yang dituntut oleh pengertian sistematis. Setiap kesimpulan akan meliputi “kekeliruan mengenai dalil-dalil yang bertentangan”, yaitu; akan membentuk suatu kontradiksi sendiri. Apabila dalil-dali. Yang berlawanan ini terdapat dalam suatu argument, dalil yang satu akan membatalkan dalil yang lain.

Penerapan dalil yang kontradiksi jelas akan membawa kekeliruan-kekeliruan. Justru itu dituntut kehati-hatian yang didasarkan pada kerangka dan jalan pemikiran yang rasional disamping dituntut kecermatan dalam penggalian dalil. Sekalipun hal tersebut telah gambling terlihat kekeliruannya, bisa saja terjadi dalam praktek sehari-hari. Justru itulah dalam ilmu pengetahuan ditentukan persyaratan yang ketat, sehingga mungkin saja pada pernyataan yang non-ilmiah hal itu bisa dimaklumi, tetapi pada pernyataan ilmu pengetahuan tidak mungkin akan mendapat tempat. Metode mencari kebenaran melalui penemuan kekeliruan ini  adalah upaya mencari tolok ukur yang mungkin bisa dilakukan karena pembuktian kebenaran tidak selalu bisa dilakukan secara langsung.

26. PROBLEMA KEBENARAN

Tiga penafsiran utama menganai kebenaran;

a.       Kebenaran sebagai sesuatu yang mutlak.

Kebenaran yang mutlak dituntut untuk dapat diterima secara dan oleh umum dengan dukungan data dan argumentasi ilmiah yang kuat.

b.      Kebenaran sebagai sesuatu yang subjektif, sebagai masalah pendapat pribadi.

Kebenaran subjektif agak dibatasi oleh pengalaman subjek tertentu dalam lingkungan pergaulannya, dan kebenaran kebenaran yang tidak bisa dicapai adalah pencapaian kebenaran atau kenyataan bahwa sesuatu tidak mungkin terjadi.

c.       Kebenaran sebagai suatu kesatuan yang tidak bisa dicapai, sesuatu yang tidak mungkin (ketidak mungkinan).

Kebenaran pada hakikatnya adalah tujuan dari aktivitas ilmu pengetahuan yang berkembang. Jadi, mencari kebenaran adalah tujuan ilmu pengetahuan.

27. DEFINISI TENTANG KEBENARAN

Usaha untuk mendefinisikan atau memberi batasan kebenaran mengalami banyak kesulitan. Misalnya sukar untuk menghindari proyeksi posisi seorang filsuf ke dalam suatu definisi. Prasangka seorang filsuf tak bisa dielak pencerminannya. Seorang eksistensialis seperti Martin Heidegger akan menyamakan kebenaran dan kebebasan; William James dalam hubungannya dari segi konsekuensi; Hegel dengan hasil yang secara penuh disadari; Alfred Tarski dengan konsep semantiknya atau berdasarkan arti kata; George E. Moore dengan persemaian antara penampilan dan realitas; dan Aristoteles dengan hubungan yang memadai antara konsep dan objek.

Sebagai dasar, kita bisa sepakati bahwa kebenaran adalah suatu pertimbangan yang sesuai dengan realitas, bahwa pengetahuan kita mengenai realitas dan kenyataan yang sejajar secara harmonis, sehingga system-sistem pendapat yang diintegrasikan yang didapati dalam benak kita secara terperinci tepat sejajar dengan dunia realitas.

28. KONSEPSI MENGENAI KEBENARAN

Teori tentang kebenaran sebagai suatu kepercayaan bahwa kebenaran itu memadai dalam hal cara berfikir tentang sesuatu yang dalam bahasa Latin disebut adaequatio intellectus et rei. Kecerdasan manusia menemukan fakta-fakta, dan melalui itu ia memperoleh kebenaran; maka oleh karena itu, apabila pendapat manusia sejajar dengan benda-benda seperti yang tampak, dapatlah diungkapkan adanya kebenaran. Kebenaran merupakan tindakan dalam cara berfikir kita yang selalu tetap memadai. Sesungguhnya kebenaran terdapat pada orang intelek, namun tidak hanya sampai disitu, juga terdapat pada semua makhluk. Akibatnya teori adekuasi (teori memadai) ini bisa dianggap sebagai etori persesuaian tentang kebenaran yang sedang berkembang.

Konsepsi-konsepsi tentang kebenaran ini, mengingat sifatnya yang menghormati keserasian dan hal-hal memadai, pada gilirannya akan membantu penentuan tolak ukur kebenaran yang akan sangat bermanfaat bagi dunia ilmu pengetahuan, karena langkah tersebut berusaha menuntun tata fikir yang dapat menerima keserasian itu. Dengan upaya-upaya seperti pembentukan dan penyusunan tata fikir yang serasi, niscaya orang yang telah memiliki dasar berfikir tentang kebenaran akan memahami ungkapan kebenaran tersebut.

29. TEORI PERSESUAIAN MENGENAI KEBENARAN

George E. Moore secara cemerlang telah menjelaskan teori persesuaian mengenai kebenaran yang didefinisikannya bahwa kebenaran sebagai persesuaian aneka buah pikiran mengenai realitas menjadi suatu rumusan yang serasi, rasional, dan logis. Apabila suatu ide sesuai dengan “rekannya” di dunia realitas, maka itu adalah ide yang benar. Fakta-fakta itu sendiri tidak benar atau salah, tetapi kepercayaan atau keyakinan adalah benar. Kebenaran adalah kepalsuan merupakan predikat ide-ide, pernyataan-pernyataan, serta kepercayaan-kepercayaan yang harus memiliki hubungan yang sejajar dengan fakta-fakta yang mereka cerminkan. Dengan demikian sifat umum dari kebenaran adalah persesuaiannya dengan kenyataan, sedangkan kepalsuan kurang atau tidak memiliki sifat ini. Kebenaran terdiri dari kepercayaan-kepercayaan yang dikenal melalui unsure-unsur dan struktur dunia, yang senantiasa diteliti oleh para ahli.

Teori persesuaian tentang kebenaran ini memandang bahwa sesuatu yang benar adalah yang diliputi kesesuaian antara berbagai unsure yang terdapat pada keseluruhan kebenaran itu. Kesesuaian adalah landasan untuk menetapkan kebenaran sebagai sifat umum dari kebenaran itu sendiri.

30. TEORI KEBENARAN YANG BERTALIAN

Teori ini untuk pertama kalinya dikemukakan dalam filsuf Benedict, Spinoza dan Hegel, kendatipun permulaan yang agak kasar dapat dijumpai dalam tulisan-tulisan pra-Socrates (pre-Socratie writings) sebelum Socrates dan diterima dalam pelbagai bentuk oleh para filsuf sesudahnya seperti Francis Herbert Bradley, Brand Blanshard, Edgar Sheffield Brightman, dan Rudolf Carnap. Para filsuf ini menganggap kebenaran sebagai suatu system antarhubungan yang logis atau sekumpulan dalil.

Beberapa butir penting sebagai kelengkapan penggalian kebenaran akan diuraikan di bawah ini:

a. Teori pragmatis mengenai kebenaran

Kaum pragmatis yang mengutamakan segi manfaat bertahan bahwa suatu kepercayaan adalah benar asalkan teori tadi memungkinkan kita bertindak atau beraksi atau beraksi bahwa hanya kepercayaan serupa itu sajalah yang sesuai dengan realitas. William James menjelaskan segi pandangan kaum pragmatis sebagai berikut; pragmatisme selalu menanyakan hal yang itu-itu juga. Berikanlah ide atau kepercayaan sebagai sesuatu yang benar, menurut perbedaan konkret manakah yang bisa membenarkan seseorang menjadi percaya dalam kehidupannya.

Menurut ajaran pragmatisme kebenaran itu adalah khas, yaitu sesuatu yang tertentu atau khusus yang berarti terdapat banyak terdapat kebenaran individu dan bukanlah sesuatu yang merupakan system kebenaran yang telah terintegrasikan yang dikemukakan oleh teori pertalian. Di sini kebenaran-kebenaran ditampilkan oleh kreasi-kreasi individual yang menggalinya dari hasil penelitian dan berlandaskan pada petokan-patokan ilmu pengetahuan.

b. Teori ada dua arti (semantic) mengenai kebenaran

Pada tahun 1944 Alfred Tarski menyatakan konsepsinya mengenai kebenaran dalam sebuah artikel “Filsafat dan Riset Fenomenologi” (Philosophy and Phenomenological Research). Kebenaran adalah kalimat-kalimat berpredikat sebagai “bahasa-meta”; (meta langue) yang artinya bahasa yang membuat pernyataan-pernyataan secara simbolis mengenai bahasa lain. Kebenaran hanya bisa diterapkan ke dalam kalimat-kalimat dan pada dasarnya merupakan masalah sistematis atau yang berkenaan dengan arti kata yaitu menangani hubungan-hubungan tertentu antara ucapan-ucapan suatu bahasa dan maksud-maksud sehubungan dengan ucapan-ucapan tersebut. Gagasan semantic mengenai kebenaran sangat erat kaitannya dengan prinsip dasar mengenai semantic teoretis. Definisi semantic telah menyatakan bahwa semua ekuivalensi atau padan kata atau persamaan kata adalah yang dapat dinyatakan secara tegas, dan kita tidak akan menyebut definisi tentang kebenaran itu “memadai” apabila semua yang terdapat pada kata itu timbul daripadanya. Sebagai contoh, kita memberi prediat T=truth-kebenaran, pada kalimat “salju itu putih” hanya dan apabila “salju itu putih”, yaitu harus terdapat bahan yang memadai antara kalimat dan adanya eksistensi peristiwanya.

c. Relativitas versus objektivitas tentang kebenaran

Sejak zaman Socrates, perdebatan berlangsung terus mengenai apakah kebenaran itu relative dan subjektif atau mutlak dan objektif. Dikalangan filsuf Yunani Kuno, suatu aliran pemikiran yang diawali oleh Georgias of Leontium (483-375 SM) sebegitu jauh menyangsikan bahwa kebenaran pada hakikatnya ada dalam ebuah bentuk. Telah dikatakan bahwa tidak terdapat kebenaran baru namun yang lama-lama dan memang benar, diskusi-diskusi modern mengenai subjektifitas kebenaran tidak lebih daripada perluasan-perluasan tentang debat-debat kuno yang tidak berkesudahan yang senantiasa terulang kembali karena dibangkitkan kembali oleh pemikir baru pada zamannya diikitu reaksi dan tanggapan dari pemikir lain, sehingga seolah lahir konsep-konsep baru namun hakikatnya adalah penanggulangan dari kebenaran lama yang senantiasa diuji dan dikaji pada tiap periode masa.

d. Kebenaran sebagai sesuatu yang relative

Pendukung yang paling berpengaruh menegani konsep kebenaran sebagai sesuatu yang relative adalah seorang Sofis bernama Protagoras of Abdera (481-411 SM) Protagoras mendasarkan kesimpulannya pada kenyataan bahwa pengetahuan manusia mengenai dunia fenomena, dunia yang ia hubungi dengan indera-indera, tidaklah sempurna karena tidak sempurnanya indera-indera manusia, baik yang disebabkan oleh lahiriah dan kodratnya maupun oleh panca indera yang rusak akibat gangguan lingkungan yang bersangkutan.

Mengingat bahwa kebenaran itu adalah pendapat atau opini, apa yang benar bagi saya adalah benar hanya bagi saya, dan apa yang benar bagi anda adalah benar hanya bagi anda. Keterbatasan manusia yang antara lain dibatasi oleh ruang dan waktu dan watak-watak individual yang khas dan aneka macam sebagaimana terurai di atas menyebabkan warna kebenaran menjadi relative dan tidak ada yang mutlak. Hal ini tentunya kembali pada watak alami si pencari kebenaran berada dalam keterbatasan dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing secara berbeda, namun dalam keadaan tak sempurna, baik individual maupun kodrat manusia yang umum.

e. Skeptisme

Georgias of Leontium membawa pandangan Protagoras lebih jauh dengan merumuskan suatu doktrin yang bersifat nihilistic, yang menegaskan bahwa kebenaran itu tidak ada, dan skeptis. Ia menetapkan suatu tesis lipat tiga, yaitu;

–          Bahwa tidak terdapat sesuatu apapun

–          Bahwa apabila sesuatu itu memang terjadi benar-benar dan memang ada, kita tidak pernah bisa mengetahuinya

–          Apabila karena suatu ketidaksengajaan orang haruslah mengetahui, ia tidak pernah akan mampu meneruskannya pada orang lain.

f. Kebenaran sebagai tujuan

Dari diskusi mengenai pandangan Georgias yang negative itu, nyatalah bahwa argument-argumen nihilisme dan skeptisme dapat dipakai untuk merusak diri mereka sendiri. Perhatikan bagaimana dialog ungkapan di bawah ini yang membuktikan bahwa subjektifitas Protagoras juga bersifat merusak diri.

Protagoras: “kebenaran itu relative, itu hanyalah masalah opini yang ditalar oleh yang bersangkutan“.

Socrates: “anda berpendapat bahwa kebenaran semata-mata pendapat yang subjektif“.

Protagoras: “tepat sekali. Apa yang benar bagi anda adalah benar bagi anda, dan apakah yang benar bagi aku adalah benar bagiku? Kebenaran adalah subjektif“.

Socrates: “apakah yang anda maksudkan sebenarnya dengan itu? karena pendapat saya itu benar berdasarkan bahwa itu opini saya?”

Protagoras: “memang demikian pandapat saya“.

Socrates: “pendapat saya adalah kebenaran itu mutlak bukan sekedar opini dan bahwa anda, tuan Protagoras, mutlak sekali keliru. Karena ini adalah pendapat saya maka anda harus mau mengakui bahwa itu adalah benar sesuai filsafat anda“.

Protagoras: “anda benar sekali, Tuan Socrates“.

Namun akhirnya ia menentang dirinya sendiri (kontradikitif dengan dirinya sendiri) dan secara mutlak mengakui bahwa kebenaran adalah objektif dan bukannya sesuatu yang relative.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Perihal

Blog ini adalah gambaran apresiasi dari mahasiswa Aqidah Filsaafat Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya. berperan sebagai mediator dan induktor dengan upaya pemberdayaan pengetahuan yang dihimpun dalam dunia jurnalistik maya, selamat membaca.

Kategori


%d blogger menyukai ini: