SOSIOLOGI SEBAGAI ILMU POSITIF

Oleh: Bona Pablo

A. Definisi Sosiologi

Sosiologi adalah ilmu yang berkenaan dengan kehidupan bermasyarakat, dimana ilmu ini mengkaji mengenai interaksi antara manusia yang satu dengan yang lain, manusia dengan kelompok, serta kelompok dengan kelompok.

Adapun definisi sosiologi menurut para sosiolog, sebagai berikut:

  1. Max Weber dalam bukunya “Wirschaft und Gessellschaft” berpendapat bahwa Sosiologi adalah ilmu yang memberikan intepretasi dan pengertian-pengartian tentang perbuatan social.
  2. Ibn Chaldun, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang masyarakat manusia dalam bentuknya yang bermacam-macam, watak dan cirri-ciri daripada trap-trap bentuk ini dan hokum-hukum yang menguasai perkembangannya.
  3. Sosiologi menurut Prof. Dr. Selo Sumardjan, yakni suatu ilmu yang mempelajari proses-proses social, termasuk perubahan-perubahan social.

Struktur social : keseluruhan jalinan antara unsure-unsur social yang pokok, yakni kaidah-kaidah/norma-norma social, lembaga-lembaga social, kelompok-kelompok dan lapisan-lapisan social.

Proses social adalah pengaruh timbale balik antara pelbagai segi kehidupan polotik, segi kehidupan hokum denagn segi kehidupan agama, segi kehidupan agama dengan segi kehidupan ekonomi, dan sebagainya.

B. Objek Sosiologi

Objek dari sosiologi adalah masyarakat yang dilihat dari sudut hubungan antar-manusia dan proses yang timbul dari hubungan manusia didalam masyarakat. Adapun unsure-unsur dari masyarakat itu sendiri antara lain;

1.      manusia yang hidup bersama

2.      kumpulan manusia bercampur dalam waktu yang cukup lama. Sehingga berakibat adanya system komunikasi yang nantinya akan menimbulkan peraturan-peraturan yang mengatur hubungan manusia dalam suatu komunitas

3.      mereka sadar bahwa mereka (masyarakat) merupakan suatu kesatuan

4.      mereka merupakan suatu system hidup bersama. Setiap kehidupan bersama menimbulkan kebudayaan, karena setiap anggota kelompok merasa dirinya terikat satu dengan yang lain.

C. Metode Sosiologi

Sosiologi dalam meneliti masyarakat sudah barang tentu membutuhkan suatu cara kerja atau metode yang juga dipergunakan oleh ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Pada dasarnya terdapat dua cara kerja atau metode dalam sosiologi;

1.      metode kualitatif

yaitu suatu metode yang mengutamakan bahan yang sukar diukur dengan angka-angka atau ukuran exact lainnya, walaupun bahan-bahan tersebut terdapat dengan nyata didalam masyarakat.

Metode-metode yang dipergunakan dalam metode kualitatif, sebagai berikut;

a.       metode sejarah (histories)

yakni suatu metode yang dalam penerapannya mempergunakan analisis atas peristiwa-peristiwa dalam masa silam untuk merumuskan prinsip-prinsip umum.

b.      metode perbandingan (comperative)

adalah suatu metode yang dalam penerapannya mempergunakan perbandingan antara bermacam-macam masyarakat beserta berbagai bidangnya untuk mendapatkan perbedaan-perbedaan atau persamaan sebagai bidang untuk mendapatkan petunjuk-petunjuk tentang perilaku masyarakat.

c.       metode sejarah perbandingan

suatu metode yang dalam penerapannya menggabungkan metode sejarah dengan metode perbandingan. Dengan metode ini dikombinasikan antara penganalisaan keadaan masyarakat dengan pendekatan sejarah dan studi perbandingan antara penganalisaan keadaan masyarakat dengan pendekatan sejarah dan studi perbandingan antara berbagai pola masyarakat.

d.      metode studi khusus

yaitu suatu metode yang didalam penerapannya berusaha menelaah keadaan kelompok-kelompok masyarakat, lembaga social dan sebagainya secara khusus untuk akhirnya mendapatkan gambaran gejala jiwa yang bersifat umum.

2.      metode kuantitatif

metode kuantitatif adalah suatu metode yang mengutamakan bahan-bahan atau keterangan-keterangan dengan angka-angka sehingga gejala-gejala yang ditelitinya dapat diukur dengan mempergunakan skala-skala, indeks-indeks, tabel-tabel dan formula-formula yang semuanya itu sedikit banyak mempergunakan ilmu pasti.

D. Sejarah lahirnya ilmu Sosiologi sebagai ilmu positif.

Lahirnya sosiologi sebagai ilmu positif bisa kita kaitkan dengan sosiologi August Comte dengan temuannya, tiga tahap perkembanagn intelektual; tahap teologis (fiktif), tahap metafisik dan tahap ilmu pengetahuan positif. Pada tahp pertama manusia menafisrkan gejala-gejala disekelilingnya secara teologis. Dalam tahap kedua, manusia masih terikat dengan cita-cita tanpa verifikasi, oleh karena adanya kepercayaan bahwa setiap cita-cita terkait pada suatu realitas tertentu dan tidak adanya usaha untuk menemukan hukum-hukum alam yang seragam. Tahap kedua inilah yang nantinya akan memunculkan tahap ketiga, sosiologi sebgai ilmu yang positif.

Bagi Comte ilmu pengetahuan bersifat positif, apabila ilmu pengetahuan tersebut memusatkan perhatian pada gejala-gejala yang nayta dan konkrit. Samahalnya dengan sosiologi sebaagi ilmu positif, hal ini dikarenakan persamaan objek yang diteliti dengan bukti nyata dan konkret. Sosiologi juga merupakan studi positif tentang hokum-hukum dasar dari gejala-gejala social. Pada perkembangan selanjutnya, teori sosiologi sebagai ilmu positif terbagi menjadi beberapa madzhab, anatara lain mazdhab geografi dan lingkungan (tokohnya Edward Buckle dari Inggris dan Le Play dari Perancis), madzhab organis dan evolusiner (Herbert Spencer), madzhab formal (Georg Simmel), madzhab psikologi (Gabriel Tarde), madzhab hukum (Emile Durkheim), dan madzhab ekonomi (Karl Marx dan Max Weber).

E. Tokoh-tokoh Sosiologi beserta pemikirannya

1.      Auguste Comte

Auguste Comte yang pertama-tama memakai istilah sosiologi adalah orang pertamaa yang membedakan antara ruang lingkup dan isi sosiologi dari ruang lingkup dan isi ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Dia menyusun suatu sistematika dari filsafat sejarah, dalam kerangka tahap-tahap pemikiran yang berbeda-beda. Menurut Comte ada tiga tahap perkembangan intelektual; pertama, tahap teologis atau fiktif, suatu tahap dimana manusia menafsirkan gejala-gejala sekelilingnya secara teologis (dengan kekuatan-kekuatan yang dikendalikan oleh roh dewa-dewa atau Tuhan yang maha Kuasa. Kedua, tahap metafisik, pada tahap ini manusia menganggap bahwa didalam setiap gejala terdapat kekuatan-kekuatan atau inti tertentu yang pada akhirnya akan dapat diungkapkan. Pada tahap ini manusia masih terikat oleh cita-cita terkait pada suatu realitas tertentu dan tidak ada usaha untuk menemukan hokum-hukum alam yang seragam. Hal yang terakhir inilah yang merupakan tugas ilmu pengetahuan positif, yang merupakan tahap ketiga atau tahap terakhir dalam perkembangan manusia.

Menurut Comte, ilmu pengetahuan bersifat positif apabili ilmu pengetahuan tersebut memusatkan perhatian pada gejala-gejala yang nyata dan konkrit, tanpa adanya halangan dari pertimbangan-pertimbangan lainnya. Hirarki atau tingkatan ilmu-ilmu pengetahuan menurut tingkat pengurangan generalitas dan penambahan kompleksitasnya adalah sebagai berikut;

a.       matematika

b.      astronomi

c.       fisika

d.      ilmu kimia

e.       biologi

f.        sosiologi

Hal yang menonjol dari sistematika Comte adalah penilaiannya terhadap sosiologi, yang merupakan ilmu pengetahuan paling kompleks, dan merupakan suatu ilmu yang akan berkembang  pesat sekali. Comte kemudian membedakan antara sosiologi statis dan sosiologi dinamis. Sosiologi statis memusatkan perhatian pada hokum-hukum statis yang menjadi dasar dari adanya masyarakat. Studi ini semacam anatomi social yang mempelajari aksi-aksi dan reaksi timbale balik dari sitem-sistem social. Sedangkan sosiologi dinamis merupakan teori tentang perkembangan dalam arti pembangunan.ilmu pengetahuan ini menggambarkan cara-cara pokok dimana perkembangan manusia terjadi, dan tingkat inteligensia yang rendah ke tingkat yang lebih tinggi. Dengan demikian, maka dinamika menyangkut masyarakat-masyarakat untuk menunjukkan adanya perkembangan. Comte yakin bahwa masyarakat akan berkembang menuju suatu kesempurnaan. Walaupan demikian Comte sebenarnya lebih mementingkan perubahan-perubahan atau perkembangan dalam cita-cita daripada bentuk. Akan tetapi dia tidak menyadari, betapa perubahan cita-cita akan mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan bentuk pula.

2.      Max Weber, konsep-konsep dasar sosiologi tentang perilaku sosial.

A)    konsep perilaku social

perilaku social mungkin berorientasi pada masa lampau, dewasa ini, atau perilaku masa mendatang dari orang-orang lain. Oleh karena itu mungkin disebabkan karena adanya rasa dendam pada masa lampau, pertahanan terhadap bahaya yang mengancam dewasa ini atau pada masa yang akan datang. Orang-orang atau pihak-pihak lain itu mungkin adalah orang-orang yang dikenal atau yang tidak dikenal, atau mungkin merupakan suatu kuantitas tertentu, misalnya seperti; sejumlah uang.

Perilaku social tidaklah identik dengan perilaku seragam beberapa orang atau perilaku yang dipengaruhi pihak-pihak lain. Contohnya adalah; kalau orang-orang yang seadng menunggu kendaraan umum, masing-masing mengmbangkan payung karena hujan turun, atau kalau seseorang terpengaruh oleh perilaku kelompoknya. Perilaku social juga bisa dipengaruhi karena keanggotaaanya pada suatu kerumunan dan kesadarannya akan keanggotaannya tersebut.

B)     bentuk-bentuk karakteristik perilaku social

perilaku social bisa diklasifikasikan; pertama, perilaku social diklasifikasikan sebagai rasional dan berorientasi terhadap suatu tujuan. Dalam hal ini klasifikasi didasarkan pada harapan bahwa objek-objek dalam situasi eksternal atau pribadi-pribadi lainnya akan berperilaku tertentu. Kedua, bahwa perilaku social bisa diklasifikasikan oleh kepercayaan secara sadar pada arti mutlak perilaku, sedemikian rupa, sehingga tidak tergantung pada suatu motif tertentu dan diukur dengan patokan-patokan tertentu, seperti etika, estetika dan agama. Ketiga, adalah perilaku social yang diklasifikasikan sebagai sesuatu yang bersifat efektif atau emosional, yang merupakan hasil konfigurasi khusus dari perasaan pribadi. Dan yang keempat, merupakan perilaku social yang diklasifikasikan sebagai tradisional, yang telah menjadi adapt-istiadat.

C)    tipe-tipe perilaku social

suatu keberagaman orientasi perilaku social actual disebut kebiasaan, apabila perwujudannya semata-mata didasarkan pada aktualitas perilaku yang diulang-ulang dalam bentuk yang sama. Kebiasaan itu disebut adat-istiadat, kalau pola tersebut telah berlangsung lama sekali sehingga merupakan tradisi. Kalau suatu kebiasaan ditentukan oleh fakta bahwa perilaku semua pihak terarah pada harapan-harapan identik, maka gejala itu disebut kebiasaan yang ditentukan oleh situasi kepentingan diri pribadi.

Ragam atau gaya merupakan bagian dari kebiasaan. Ragam atau gaya terdapat kalu hal itu dimotivasi oleh kebaurannya, dan bukan oleh kelestariannya sebagaimana halnya dengan adapt-istiadat. Ragam atau gaya berada dalam ruang lingkup konvensi, oleh karena didasarkan pada keinginan mendapatkan presentise social.

Stabilitas adat-istiadat secara esensial didasarkan pada fakta bahwa apabila seseorang tidak menyesuaikan perilakunya pada adat-istiadat, maka akan timbul kesulitan-kesulitan yang akan mengganggu kehidupannya. Hal ini akan terjadi selama mayoritas menganuti adat-istiadat itu. Demikianhalnya dengan stabilitas perilaku dalam artian kepentingan pihak lain, maka dia mengundang permusuhan pihak lain tersebut sebagaimana akan menghancurkan kepentingan dirinya sendiri.

3.      dan lain-lain.

REFERENSI

Ø      Johnson, Paul, Doyle. 1994. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta: Gramedia.

Ø      Soekanto, Soejono. 2005. Mengenal Tujuh Tokoh Sosiologi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Ø      ————————. 2002. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Ø      Suharto. 1991. Tanya Jawab Sosiologi. Jakarta: PT. Rineka Cipta.


About this entry