Positivisme Logis ALFRED JULES AYER

Oleh: Bona PAblo

A. PENDAHULUAN

Positivisme merupakan perkembangan lanjut dari aliran empirisme. Seperti yang kita ketahui bahwa empirisme telah menjadi sumber filosofis bagi positivisme, terutama pada masalah pandangan objektiv mereka terhadap ilmu pengetahuan. Empirisme yang didukung filsuf Inggris ini (Locke, Hume, Berkeley) meyakini bahwa realitas adalah segala sesuatu yang bisa dijangkau oleh indera. Lebih dari itu, seiring dengan perkembangan zaman, positivisme mengembangkan paham empiris ini lebih ekstrim lagi, yakni menyatakan bahwa puncak pengetahuan manusia adalah ilmu-ilmu positif atau sains yang berangkat dari fakta-fakta empiris.

Dalam perkembangannya, pada abad ke-20 M muncullah sebuah aliran filsafat ilmu pengetahuan yakni positivisme logis, dimana positivisme logis (neopositivisme) ini berkembang di Lingkungan Wina, Austria. Diantara tokoh positivisme logis yang akan kami bahas pada makalah ini adalah Alfred Jules Ayer. Hal ini menjadi tugas kami sebagai pemenuhan atas tugas mata kuliah filsafat kontemporer. Kami rasa perlu untuk mengemas pemikiran A.J Ayer dalam makalah ini karena beliaulah yang berperan besar dalam perkembangan positivisme logis. A.J. Ayer-lah yang memperkenalkan positivisme logis yang berkembang di Lingkungan Wina untuk dikenalkan di negara-negara lain yang berbahasa Inggris.

Demikian pendahuluan dari kami, lebih jelasnya kami tuangkan segala isi kepala kami tentang A.J Ayer dalam makalah ini lebih lanjut.

B. ALFRED JULES AYER (1910-1989) M

1. Biografi Singkat A.J. Ayer

Alfred Jules Ayer pernah belajar filologi klasik dan filsafat di Oxfrod. Sesudah itu ia pergi ke Austria, tepatnya berkunjung ke Universitas di Wina. Kemudian ia kembali ke Inggris dan diangkat menjadi dosen di Oxfrod, hingga akhirnya setelah perang dunia II ia diangkat sebagai professor di Universitas London (1946-1959).[1] Salah satu buku yang ia terbitkan ialah Language, Truth and Logic (1936) dimana buku ini terbit ketika usianya 25 tahun. Language, Truth and Logic memuat sebagian besar pemikiran Ayer sehingga buku ini dikaitkan dengan munculnya salah satu aliran baru dalam filsafat periode kontemporer, yakni positivisme logis. Dalam kata pengantar bukunya, Ayer mengakui bahwa pemikirannya telah dipengaruhi oleh dua tokoh Lingkungan Wina yakni Moritz Schlick dan Rudolf Carnapp.[2] Adapun buku-buku Ayer yang lainnya adalah The Problem of Knowledge (1957), The Foundations of Empirical Knowledge (1940), The Origins of Pragmatism (1968), Russell and Moore, The Analytical Heritage (1971), Russell (1972), Probability and Evidence (1972), The Central Problems of Philosophy (1973), Philosophy in the 20th Century (1982).[3]

2. Positivisme Logis A.J Ayer

Positivisme logis merupakan salah satu aliran baru dalam perkembangan filsafat di abad 20-an. Persamaan positivisme kalsik dan positivisme logis ialah keduanya sama-sama menjungjung tinggi sains dan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuan yang objektif-rasional. Sedangkan perbedaannya adalah apabila positivisme klasik lebih menaruh  perhatian pada bidang pengaturan social masyarakat secara ilmiah dan adanya gerak kemajuan evolutif dalam alam, maka positivisme logis lebih memfokuskan diri pada logika dan bahasa sains. Filsafat menurut positivisme logis harus bertindak sebagai hamba sains.[4] Fungsi pokok filsafat bagi positivisme logis ialah melakukan kajian sains tentang metodologi sains dan melakukan klarifikasi sehingga kerancuan dalam penggunaan bahasa dapat dihindarkan.

Dalam positivisme logis perhatian yang paling utama difokuskan pada masalah adanya garis demarkasi (garis batas) antara kalimat yang bermakna (sense) dan yang tidak bermakna (non sense). Para filsuf positivisme logis tidak memperhatikan kebenaran suatu ucapan, akan tetapi lebih mengutamakan makna dari ucapan-ucapan. Lalu pertanyaannya ialah bagaimana kita bisa membedakan ucapan yang bermakna dan ucapan yang tidak bermakna?  Dalam menjawab pertanyaan ini, kaum positivisme logis mengemukakan pembelaannya dengan berargument bahwa pernyataan yang sungguh-sungguh bermakna adalah pernyataan yang termasuk ke dalam salah satu dari dua kategori berikut;[5] pertama, suatu kalimat bisa jadi benar atau salah berdasarkan istilah-istilah yang dipergunakan. Tidak perlu adanya verifikasi, kita hanya membutuhkan analisis saja dengan berdasarkan relitas inderawi. Misalnya, jika aku mengatakan “Laki-laki yang tinggal di sebelah rumahku adalah “Bujangan” dengan seorang istri dan dua anak”. Kalimat ini bermakna tapi tidak benar (salah). Kita tahu bahwa sesungguhnya kata “bujangan” hanya diperuntukkan bagi laki-laki yang belum menikah.  Samahalnya dengan matematika dan logika, kedua ilmu tersebut hanya membutuhkan analisis sebagai timbangan bahwa suatu pernyataan logika dan matematika bisa bermakna. Contohnya, “segitiga adalah gambar yang dibentuk oleh tiga garis lurus yang saling memotong”.[6] Kategori yang kedua ialah pernyataan-pernyataan yang kebenaran atau kesalahannya tidak bisa ditentukan dengan menganalisis, tetapi hanya bisa dilakukan dengan mengecek fakta-fakta. Contohnya, jika aku mengatakan “Terdapat empat belas gadis berambut pirang di desaku”, contoh ini bisa jadi benar, bisa juga jadi salah. Satu-satunya cara untuk mengatahui benarnya pernyataan tersebut adalah melalui verifikasi.

A.J Ayer sebagai seorang tokoh positivisme logis, menurutnya hanya bermakna suatu ucapan yang berupakan observation-statement artinya pernyataan yang menyangkut realitas inderawi; dengan kata lain, suatu ucapan yang dilakukan berdasarkan observasi, atau sekurang-kurangnya berhubungan dengan observasi.[7] Bahwa suatu pernyataan akan bermakna apabila pernyataan tersebut sesuai dengan realitas inderawi. Untuk menguatkan pandangan ini, maka Ayer mengemukakan adanya prinsip verifikasi sebagai tolok ukurnya. Dengan begitu akan diketahui bahwa pernyataan-pernyataan yang tidak bisa diverifikasi dan dianalisis secara logika adalah pernyataan yang tidak bermakna. Seperti dalam buku Language, Truth and Logic, ia mengatakan: “Sebagian besar perbincangan ynag dilakukan oleh para filsuf sejak dahulu sesungguhnya tidak dapat dipertanggungjawabkan dan juga tidak ada gunanya”.[8] Kita tahu bahwa para filsuf sebagian banyak memperbincangkan persoalan metafisika, demikian juga dengan munculnya idealisme di Inggris pada abad modern. Menurut Ayer, itu semua merupakan hal yang tidak bermakna sama sekali karena hal-hal tersebut (terutama berkaitan dengan metafisika) tidak bisa dibuktikan secara empiris. Pandangan empiristic telah mempengaruhi Ayer, hal ini terlihat pada pengajuan prinsip verifikasi yang dikemukakan olehnya. Jadi common sense adalah acuan utama dalam positivisme logis Alfred Jules Ayer.

Ayer juga memberikan batas-batas pada prinsip verifikasi yang diberlakukannya sebagai tolak ukur. Baginya suatu pernyataan tidak hanya bisa dibuktikan secara langsung, akan tetapi ada cara pula secara tidak langsung untuk memverifikasi pernyataan, yakni kami contohkan dengan fakta sejarah, bahwa fakta sejarah tidak bisa kita verifikasi secara langsung, akan tetapi kita bisa mengetahui fakta sejarah melalui orang yang bersaksi dan jujur atas apa yang disaksikannya. Jadi peran orang lain sangat berpengaruh dalam penentuan pernyataan atas suatu kejadian yang kita tidak tahu. Misalnya, “Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945”,[9] jelas disini kita sadar bahwa kita tidak hidup pada zaman itu. Maka kita membutuhkan kesaksian banyak orang mengenai hari kemerdekaan Indonesia.

Mengenai hal yang berhubungan dengan metafisika, theologi, etika, dan estetika, kaum positivisme logis termasuk A.J Ayer menganggap itu semua tidak bermakna. Hal ini dikarenakan pandangannya yang bersifat empiristic yang mengacu hanya pada common sense (akal sehat) telah menjadikannya anti terhadap sesuatu yang bersifat non-sense. Semua itu hanya mitos belaka yang muncul dari emosi manusia. Hal ini dikarenakan metafisika, etika, teologi dan estetika tidak bisa diobeservasi untuk diverifikasi lebih lanjut. Oleh karena itu, menurut Ayer pernyataan yang bersifat abstrak tersebut tidak bermakna, dan itu semua hanya omong kosong belaka.

Namun berkenaan dengan pandangan positivisme logis yang mengutamakan adanya verifikasi sebagai tolak ukur, terdapat beberapa kelemahan pada prinsip verifikasi[10]; pertama, terlihat adanya semacam paksaan untuk memberlakukan tolak ukur secara empiristic, sehingga sesuatu yang dianggap metafisis dikesampingkan bahkan bisa tidak diakui. Kedua, penerapan prinsip verifikasi ke dalam teknik analisis bahasa ternyata mengandung banyak kesukaran. Jikalau para penganut positivisme logis menganggap sesuatu yang bersifat metafisis tidak bermakna dengan melalui verifikasi sebagai tolok ukurnya, maka para filsuf pun berhak mencurigai para filsuf positivisme logis dengan menanyakan, apakah prinsip verifikasi itu sendiri dapat dikategorikan sebagai pernyataan yang bermakna? Bagaimana cara melakukan verifikasi terhadap prinsip verifikasi itu sendiri? Hal ini tidak pernah dipikirkan oleh para penganut positivisme logis.  Dengan demikian dapat dikatakan bahwa prinsip verifikasi itu sendiri sesungguhnya bersifat metafisik. Ketiga, para theolog menolak penerapan prinsip verifikasi ke dalam bahasa theolog. Sebab menurut Karl Bath, seorang theolog ternama, bahwa pernyataan theologies bersifat otonom. Keempat, tolok ukur yang dikenakan prinsip verifikasi terhadap pernyataan-pernyataan dalam bidang etika dengan alasan pernyataan semacam itu hanya merupakan ungkapan rasa (ekspresi) semata, pada dasarnya dapat dikembalikan kepada fungsi bahasa. Fungsi bahasa tidak semata-mata kognitif, tetapi juga emotif, imperative, bahkan seremonial.

3. Kritik atas Positivisme Logis

Dalam perkembangannya positivisme logis menuai beberapa kritikan. Diantara para filsuf yang mengkritik aliran positivisme logis ialah Karl R. Popper, Ferdinand de Saussure, W.V. Quine, dan Jacques Derrida.

Quine mengemukakan teorinya yang disebut indeterminacy of meaning (teori ketidakbertentuan makna). Teori Quine ini mengemukakan bahwa makna suatu kata tidak bisa ditentukan oleh pengamatan empiris, karena tidak ada persetujuan yang sifatnya apriori-universal, melainkan terbatas spasio-temporal. Misalnya, Democritos dan Albert Einstein sama-sama menggunakan kata “atom”, namun makna kata “atom” pada Democritos tidak sama dengan kata “atom” pada Albert Einstein, karena mereka  berdua memiliki konvensi tentang makna atom yang dibatasi oleh spasio-temporal mereka masing-masing.[11]

Karl Popper juga mengajukan kritik atas positivisme logis, terutama mengenai masalah garis demarkasi (garis batas) antara pernyataan yang bermakna dan pernyataan yang tidak bermakna.[12] Karl Popper menekankan bahwa prinsip verifikasi bukanlah satu-satunya tolok ukur untuk menentukan kebenaran-kebenaran yang bersifat umum, lebih-lebih dalam ilmu pengetahuan. Hal ini dikarenakan seringkali kita temui bahwa fakta sejarah telah menjadi bukti secara tidak langsung bahwa ilmu pengetahuan sendiri lahir dari pandangan-pandangan yang bersifat metafisis atau mistis tentang dunia, sebagai contoh boleh disebut gagasan metafisis seperti atomisme Leukippos dan Demokritos. Menurut Karl Popper, suatu ucapan metafisis bukan saja bermakna, tetapi dapat benar juga biarpun baru menjadi ilmiah kalau sudah diuji dan dites. Selain itu Karl Poppr juga sering disebut sebagai penggagas prinsip falsifikasi sebagai lawan dari prinsip verifikasi.

Begitu pula dengan Ferdinand de Saussure, seorang ahli linguistic dari Swiss. Proyeknya ialah menciptakan ilmu bahasa yang mengkaji bahasa sebagai sesuatu yang otonom. Ia juga seorang pengkritik positivisme logis. Adanya paham realisme dalam pernyataan telah dibekukan oleh kaum positivisme logis yang menganggap bahwa prinsip verifikasi adalah satu-satunya tolok ukur untuk menentukan kebermaknaan suatu pernyataan tanpa pelduli realitas sebenarnya. Menanggapi hal ini Saussure mengkritik aliran positivisme logis tersebut. Menurut Saussure, suatu pernyataan harus ada hubungan korespondensi antara konsep (linguistic) dengan realitas (ektralinguistik).[13] Saussure juga merevolusi asumsi metafisis realisme (pandangan adanya dunia nyata di luar yang dapat diketahui oleh benak manusia) dan menggantinya dengan relativisme linguistic (pandangan bahwa apa yang dapat diketahui adalah system konsep-konsep yang dihasilkan oleh struktur arbitrer bahsa).[14] (Lebih lengkap lagi terdapat beberapa teori tentang bahasa dalam buku Ferdinand de Saussure dengan judul “Asas-asas Linguistik”).

C. PENUTUP

Sebagaimana pemaparan pembahasan diatas, beberapa kesimpulan yang kami sampaikan yakni; pertama, sebenarnya yang menjadi focus pembahasan positivisme logis ialah mengenai kebermaknaan suatu pernyataan (kalimat), bukan kebenarannya (realitas). Kedua, adalah Alfred Jules Ayer seorang yang memperkenalkan positivisme di luar Lingkungan Wina dengan teorinya tentang prinsip verifikasi sebagai tolok ukur sebuah pernyataan agar suatu pernyataan bisa dikatakan bermakna. Syarat agar pernyataan bisa dibilang bermakna ialah observation-statement dimana penerapan prinsip verifikasi berperan sekaligus menentukan kebermaknaan suatu pernyataan. Ketiga, penerapan prinsip verifikasi ini telah menuai kritik-kritik pedas dari beberapa filsuf, antara lain: W.V. Quine (seorang neopragmatisme), Ferdinand de Saussure (strukturalisme), Jacques Derrida (postkulturalisme) dan Karl R.Popper.

DAFTAR PUSTAKA

Adian, Gahral, Donny. 2005. Percik Pemikiran Kontemporer. Yogyakarta: Jalasutra.

Bertens, K. 2002. Filsafat Barat Kontemporer Inggris-Jerman. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

http://id.wikipedia.org/wiki/positivisme-logis.

Katsoff, O, Louis. 1996. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.

Magee, Bryan. 2005. Memoar Seorang Filosof. Bandung: Mizan.

Mustansyir, Rizal. 2001. Filsafat Analitik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Palmquis, Stephen. 2002. Pohon Filsafat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


[1] Lihat,  K. Bertens, Filsafat Barat Kontemporer Inggris-Jerman, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2002), cet.IV, hal.33.

[2] Lihat, Rizal Mustansyir, Filsafat Analitik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hal.79-80.

[3] K.Bertens, Op.Cit., hal.39.

[4] Donny Gahral Adian, Percik Pemikiran Kontemporer, (Yogyakarta: Jalasutra, 2005), hal.32.

[5] Lihat, Bryan Magee, Memoar Seorang Filosof, (Bandung: Mizan, 2005), hal.59-60.

[6] Lihat, K. Bertens, Op.Cit., hal.37.

[7] Ibid., hal.36.

[8] Louis O.Kattsoff, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1996), cet.VII. hal.232.

[9] Lihat, K. Bertens, Op.Cit., hal.37.

[10] Lihat, Rizal Mustansyir, Op.Cit., hal.92-94.

[11] Donny Gahral Adian, Op.Cit., hal.37.

[12] K.Bertens, Op.Cit., hal.80.

[13] Donny Gahral Adian, Op.Cit., hal.39.

[14] Ibid., hal.40.


About this entry