Konsep Takdir dalam Prespektif Muhammad Abduh

Oleh  :Bona Pablo

A. PENDAHULUAN

Muhammad Abduh adalah seorang reformis Mesir yang berusaha memodernisasi Islam. Demikian juga dengan pemikirannya tentang takdir yang berbeda dengan ulama-ulama salaf sebelumnya. Dalam pemikirannya, Abduh cenderung menitikberatkan segala masalah pada akal, termasuk konsepnya tentang takdir. Semua keilmuan yang dikemukakan Abduh adalah bentuk modernisasi agama Islam. Maka dari itu, perlunya kami mengangkat tema “Takdir (dalam pemikiran Muhammad Abduh)” sebagai bahan pembahasan masalah pada presentasi  kali ini.

B. Pemikiran Muhammad Abduh tentang Takdir

1.      Sekilas Riwayat Hidup Muhammad Abduh

Muhammad Abduh lahir pada tahun 1849 M disebuah dusun sekitar delta sungai Nil, Gharbiyyah, Mesir. Ayahnya bernama Abduh ibn Hasan Khairullah, seorang petani sederhana dan taat akan ilmu dan agama.[1] Sedangkan nama ibunya adalah Juhainah, seorang wanita yang hidup di provinsi Gharbiyyah.[2] Abduh dibesarkan oleh keluarga yang berpegang teguh pada ilmu dan agama. Maka dari itu, sejak dini Abduh sudah dididik tentang agama, bahkan ketika usia 12 tahun Abduh telah hafal al-Qur’an.

Setahun kemudian, Abduh oleh pamannya Darwisy Khard[3] dibawa ke Tanta untuk belajar di masjid Ahmadi. Karena metode pengajaran yang cenderung hafalan tanpa memahami isi al-Qur’an, maka Abduh memilih pulang dan kemudian menikah dalam usia 16 tahun. Akan tetapi pada tahun 1866 M ia meninggalkan keluarganya dan kembali menuntut ilmu di Kairo, Mesir.

Muhammad Abduh adalah seorang pembaru pemikiran Islam. Ia menentang jumud, kebekuan dan kestatisan umat Islam pada masa itu. Menurutnya Islam mengajarkan dinamika, bukan kejumudan.[4] Abduh juga tidak setuju dengan sikap taklid kepada ulama-ulama salaf. Karena bagi Abduh, manusia merupakan makhluk yang dikaruniai akal dan kebebasan berfikir untuk melakukan dan menentukan kebaikan dengan membumikan al-Qur’an disegala masa. Dengan kata lain, Muhammad Abduh tidak menyetujui penutupan pintu ijtihad yang pernah diutarakan al-Ghazali.

Dengan pola pikir Abduh yang menekankan kekuatan akal inilah maka banyak orang mengatakan bahwa Abduh adalah seorang rasionalis islam berfaham Mu’tazilah. Salah satu contohnya adalah pemikiran rasional Mu’tazilah kepada prinsip-prinsip dalam al-Qur’an dan hadis untuk menghadapi zaman dan meninggalkan taklid kepada hasil ijtihad ulama’ salaf.[5]

Abduh termasuk seorang yang berpengaruh besar dalam perkembangan agama Islam. Ia juga pernah menjadi seorang mufti di Mesir. Abduh meninggal pada tanggal 8 Jumad al-Awal 1323H/ 11 Juli 1905 M.[6] Jenazahnya dimakamkan di Kairo, Mesir.

2.      Pemikiran Muhammad Abduh Mengenai Takdir

Masalah takdir dikaitkan dengan qada’ dan qadar. Sebagaimana penulis kemukakan didepan, bahwa Abduh adalah seorang rasionalis Islam. Dengan begitu pola pikir rasionalis juga berpengaruh pada pemikirannya tentang “takdir” yang meliputi qada’, qadar dan perbuatan manusia.

a.       Perbuatan manusia

Menurut Abduh, manusia adalah makhluk yang bebas dalam memilih perbuatannya dengan didukung oleh tiga unsure; akal, kemauan dan daya.[7] Ia juga menekankan tentang 7 tingkat dalam al-Qur’an, bahwa dalam al-Qur’anlah wahyu untuk pertama kali berbicara pada akal.[8] Kebebasan berfikir yang dimaksud Abduh adalah kebebasan yang sifatnya terbatas, bukan absolute. Hal ini digambarkannya melalui ketentuan berikut:

1.    manusia melakukan perbuatan dengan daya dan kemampuannya.

2.    kekuasaan Allah adalah tempat kembali semua yang terjadi.

Dimaksudkan oleh Abduh, bahwa perbuatan manusia adalah ikhtiar manusia dengan tujuan menentukan hasil, walaupun yang menjadi hasil tarkadang bukan merupakan kehendak manusia. Inilah takdir, kekuasaan Allah dalam menentukan segalanya melalui hukum kausalitas. Dengan anugerah-Nya “akal” manusia bisa menentukan kebebasannya dalam memilih. Diatas ketentuan “takdir” dan “ikhtiar” inilah berjalan syari’at (agama) dan diatas ketentuan itu pula berdirinya taklif-taklif (perintah-perintah) Tuhan. Siapa yang berani mengingkari salah satu diantaranya, nyatalah ia memungkiri sumber iman pada dirinya sendiri, yakni akalnya; akal yang telah mendapat kehormatan dari Allah untuk memikirkan perintah-perintah dan larangan-laranganNya.[9]

b.      Qada’ dan qadar

Qada’ dan qadar dalam pandangan Abduh mempunyai pemikiran yang berbeda dengan umat Islam pada zamannya. Bagi Abduh, qada’ adalah kaitan antara ilmu Tuhan dengan sesuatu yang diketahui. Sedangkan qadar adalah terjadinya sesuatu sesuai dengan ilmu Tuhan.[10] Jadi ilmu dan pengetahuan Tuhan merupakan intii pengertian dalam qada’ dan qadar. Apa yang diketahui Tuhan pasti akan sesuai dengan kenyataan, dan mustahil bisa disebut sebagai suatu yang diketahui jika tidak sesuai dengan kenyataan. Dengan demikian tidak ada satu pun di dalam alam ini yang berada di luar pengetahuan Tuhan, semuanya berada dalam jangkauan ilmu-Nya, termasuk didalamnya apa yang dipilih manusia dengan kebebasan yang diberikan Tuhan. Arti qada dan qadar yang demikian tidaklah menunjukkan paksaan untuk melakukan suatu perbuatan. Karena Tuhan hanya mengetahui apa yang dilakukan manusia, bukan menetapkan apa yang harus dilakukan manusia. Manusia melakukan pilihannya dengan bebas. Jadi, peran Tuhan dalam hal ini adalah pengetahuan, dan peran tersebut tidak menjadi penghalang bagi kebebasan manusia dalam memilih perbuatannya.

C. PENUTUP

Abduh merupakan seorang pemikir Islam yang mereformasi pemikiran umat Islam untuk tidak taklid pada ulama-ulama salaf. Muhammad Abduh termasuk salah satu rasionalis islam, ini dibuktikan dengan pola pikirnya yang cenderung mengutamakan akal sebagai alat untuk berfikir dan menentukan kebaikan dengan cara membumikan al-Qur’an disegala masa, dimana al-Qur’an akan menjadi landasan umat Islam disepanjang zaman.

Demikian pula dengan model pemikirannya tentang masalah takdir. Menurutnya, manusia mempunyai kebebasan memilih, akan tetapi kebebasan tersebut bersifat terbatas, artinya masih ada kekuatan diatas akal manusia. Ia juga berpendapat bahwa qada’ merupakan kaitan antara ilmu Tuhan dengan sesuatu yang diketahui, sedangkan qadar adalah terjadinya sesuatu sesuai dengan ilmu Tuhan. Jadi menurut Abduh, Tuhan tidak ikut campur dalam menentukan perbuatan manusia, akan tetapi Tuhan mengetahui apa-apa yang terjadi. Dalam hal ini Tuhan berperan sebagai yang Maha Tahu, tetapi tidak sebagai penghalang bagi manusia dalam menentukan kebebasannya.

DAFTAR PUSTAKA

Ø      Abduh, Muhammad. 1989. Risalah Tauhid. Jakarta: Bulan Bintang.

Ø      Armstrong, Karen. 2002. Islam: Sejarah Singkat. Yogyakarta: Jendela.

Ø      Hanafi, A. 2003. Pengantar Teologi Islam. Jakarta: PT. Pustaka Al-Husna Baru.

Ø      Lubis, Arbiyyah. 1993. Pemikiran Muhammadiyah dan Muhammad Abduh. Jakarta: Bulan Bintang.

Ø      Nasution, Harun. 2000. Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran. Bandung: Mizan.

Ø      Rahnema, Ali. 1996. Para Perintis Zaman Baru Islam. Bandung: Mizan.

Ø      Rais, Amin.  1995. Islam dan Pembaharuan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Filsafat IAIN Sunan Ampel Surabaya semester III


[1] Arbiyyah Lubis, Pemikiran Muhammadiyah dan Muhammad Abduh, (Jakarta: Bulan Bintang,1993), hlm.112.

[2] Lihat, A.Hanafi, Pengantar Teologi Islam, (Jakarta: PT. Pustaka Al-Husna Baru, 2003), hlm.199.

[3] Darwisy Khard adalah paman Abduh, dia juga seorang syaikh dan sufi yang berasal dari tarekat Syadzili yang bermadzhab Maliki. Darwisy memotivasi Abduh untuk menekuni ilmu dan agama, serta mengajari Abduh disiplin etika dan moral sebagai praktek kezuhudan. (Lihat, Ali Rahnema, Para Perintis Zaman Baru Islam, Bandung: Mizan, 1996), cet.II, hlm.37.

[4] Harun Nasution, Islam Rasional Gagasan dan Pemikiran, (Bandung: Mizan, 2000), cet.VI, hlm.150.

[5] Ibid., hlm.150.

[6] Arbiyyah Lubis, Op.Cit., hlm.120.

[7] Ibid., hlm.125.

[8] Harun Nasution, Op.Cit., hlm.150.

[9] Syekh Muhammad Abduh, Risalah tauhid, (Jakarta: Bulan Bintang, 1989), cet.VIII, hlm.48

[10] Lihat, Arbiyyah Lubis, Op.Cit., hlm.130


About this entry