ISLAMISASI ILMU

A. PENDAHULUAN

Berbicara mengenai Islamisasi Ilmu pengetahuan, berarti kita juga berbicara tentang 3 pemahaman dasar yang lazimnya ada dalam khazanah pemikiran filsafat yaitu Tuhan, manusia dan alam. Munculnya islamisasi ilmu dipengaruhi oleh beberapa hal, yang diantaranya adalah; respon terhadap kondisi umat manusia dan alam yang semakin tidak jelas orientasinya, kerusakan alam dalam bentuk pemanasan global, kesemrawutan tata ruang kota, kerusakan moral manusia pada umumnya, dll. Yangmana kesemuanya itu merupakan dampak dari paganisme Yunani, pandangan hidup secular yang berasal dari peradaban Barat dan keringnya ilmu pengetahuan dari sentuhan agama sehingga hal ini bisa menimbulkan sikap skeptis terhadap agama dan ilmu pengetahuan itu sendiri.

Menurut Thomas S.Khun, kesadaran akan adanya anomali dalam tubuh ilmu pengetahuan sebenarnya sudah begitu lama berlangsung sehingga ketika dijumpai anomali-anomali itu menumpuk dan kian tinggi kualitasnya, yakni ketika berbagai fenomena dan teka teki seputar ilmu pengetahuan tidak dapat dijawab oleh teori-teori dalam ilmu pengetahuan normal, maka ilmu pengetahuan itu berada berada dalam keadaan krisis yang sangat gawat. Hal demikian menghajatkan dengan segera adanya revolusi ilmu, yakni peralihan dalam kerja ilmiah dari paradigma lama menuju suatu paradigma baru ilmu.[1] Pemahaman seperti ini didasarkan pada asumsi bahwa ilmu yang ada sekarang ini bersifat universal, dimana setiap penemuan dari hasil pemikiran ilmiah yang terikat dengan kaidah,prinsip hukum ilmu dengan sendirinya menjadikan struktur ilmu yang dibanggunnya sudah cukup menggambarkan kebenaran realitas yang bersifat universal.[2] Pendekatan epistemologi dalam mengungkapkan kebenaran realitas akhirnya benar-benar menyisihkan kehadiran Tuhan sebagai seumber al-haq dalam seluruh realitas ciptaan.

Oleh karena itu, pemikir-pemikir muslim seperti Naquib al-Attas dan Ismail Raji al-Faruqi menawarkan ide “Islamisasi ilmu” sebagai solusi atas pandangan hidup secular yang tidak membawa kedamaian hati. Namun demikian ide Islamisasi ilmu tidak sepenuhnya pemikir muslim bisa menerimanya. Hal ini karena tidak jarang Islamisasi ilmu dipandang sebagai pelabelan oleh agama terhadap ilmu pengetahuan. Lalu bagaimana konsep Islamisasi ilmu itu sendiri? Dan apa pula hal-hal yang menyebabkan Islamisasi menuai kritik, bahkan dari pemikir-pemikir muslim sendiri?

Sebenarnya tokoh Islamisasi ilmu ada banyak, akan tetapi dengan segala keterbatasan kami hanya membahas Islamisasi ilmu menurut Naquib al-Attas dan Ismail Raji al-Faruqi sebagai tokohnya.

B. ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN NAQUIB AL-ATTAS DAN ISMAIL RAJI AL-FARUQI

Islamisasi ilmu merupakan proses mengislamkan imu pengetahuan berdasarkan ajaran agama Islam. Adanya ide atau gagasan Islamisasi ilmu muncul sebagai solusi atas perkembangan zaman yang ilmu pengetahuan dan tekhnologinya semakin maju dan pesat, dimana sekularisme menjadi pandangan hidup manusia modern, manusia semakin gersang akan pengetahuan agama. Untuk membendung pola hidup secular ini, maka ide Islamisasi ilmu muncul dengan tokohnya yaitu Naquib al-Attas dan Ismail Raji al-Faruqi.

Secara umum tujuan Islamisasi ilmu-ilmu alam adalah untuk merumuskan kajian yang mencakup segala kajian tentang alam semesta, bersama aplikasi tekhnologinya, didasarkan pada prinsip-prinsip Islam. Tugas utama Islamisasi ilmu adalah untuk membuat aplikasi-aplikasi konkret prinsip-prinsip Islam dalam berbagai ilmu pengetahuan.[3]

  1. Islamisasi ilmu Naquib al-Attas

Syed Muhammad Naquib al-Attas menyadari bahwa virus yang terkandung dalam Ilmu Pengetahuan Barat modern-sekuler merupakan tantangan yang paling besar bagi kaum Muslimin saat ini. Dalam pandangannya, peradaban Barat modern telah membuat ilmu menjadi problematis. Selain telah salah-memahami makna ilmu, peradaban Barat juga telah menghilangkan maksud dan tujuan ilmu. Sekalipun, peradaban Barat modern menghasilkan juga ilmu yang bermanfaat, namun peradaban tersebut juga telah menyebabkan kerusakan dalam kehidupan manusia. Dalam pandangan Syed Muhammad Naquib al-Attas, Westernisasi ilmu adalah hasil dari kebingungan dan skeptisisme. Westernisasi ilmu telah mengangkat keraguan dan dugaan ke tahap metodologi ilmiah. Bukan hanya itu, Westernisasi ilmu juga telah menjadikan keraguan sebagai alat epistemologi yang sah dalam keilmuan. Menurutnya lagi, Westernisasi ilmu tidak dibangun di atas Wahyu dan kepercayaan agama. Namun dibangun di atas tradisi budaya yang diperkuat dengan spekulasi filosofis yang terkait dengan kehidupan sekular yang memusatkan manusia sebagai makhluk rasional. Akibatnya, ilmu pengetahuan dan nilai-nilai etika dan moral, yang diatur oleh rasio manusia, terus menerus berubah.

Ilmu pengetahuan modern yang diproyeksikan melalui pandangan hidup itu dibangun di atas visi intelektual dan psikologis budaya dan peradaban Barat. Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas, ada 5 faktor yang menjiwai budaya dan peradaban Barat:

a.  Akal diandalkan untuk membimbing kehidupan manusia.

b.  Bersikap dualistik terhadap realitas dan kebenaran.

c. Menegaskan aspek eksistensi yang memproyeksikan pandangan hidup secular.

d.   Membela doktrin humanisme.

e.  Menjadikan drama dan tragedi sebagai unsur-unsur yang dominant dalam fitrah dan eksistensi kemanusiaan.

Melihat hal yang demikian kacaunya, Naquib al-Attas menawarkan suatu gagasan pembaharuan, yakni Islamisasi ilmu. Definisi yang dia berikan untuk Islamisasi ilmu adalah upaya pembebasan manusia dari tradisi mitologis, magis, animistis, kultur nasional (yang bertentangan dengan Islam) dan dari belenggu paham sekuler terhadap pemikiran dan pembahasannya.[4]

Dalam definisi Islamisasi di atas, terdapat dua aspek yang perlu dikaji lebih lanjut[5]; pertama, pada tingkat individu yang membawa konsekuensi dari Islamisasi adalah pengakuan terhadap Nabi SAW sebagai pemimpin dan pribadi teladan bagi pria maupun wanita baik pada tingkat kolektif, social dan histories.[6] Pada tingkat individu ini Islamisasi berhubungan langsung dengan moralitas manusia, dimana moral merupakan hal terpenting dalam pendidikan seseorang. Kedua, pada tingkat epistemologis, Islamisasi ilmu ini berkaitan dengan pembebasan akal manusia dari keraguan (syakk), prasangka (dzann), dan argumentasi kosong (mira’) menuju pencapaian keyakinan (yaqin) dan kebenaran (haqq) mengenai realitas-realitas spiritual, penalaran dan material. Maksud dari ilmu yang sebagai pembebasan akal di sini ialah ilmu yang dibangun atas dasar keyakinann dimana hal ini adalah sesuatu yang bersifat positif karena pandangan hidup yang dimiliki oleh seseorang yang memilikinya juga bersifat positif. Ketiga, ditingkat linguistic Islamisasi berarti memebrsihkan dan merehabilitasi kata-kata kunci yang penting bagi pembahasan ilmu dari sisa-sisa efek sekularisasi yang ada. Islamisasi akan mengembalikan bentuk semantic kata-kata kunci tersebut kepada bentuk asalnya, sehingga pemahaman yang didapatkan darinya akan sesuai dengan pandangan hidup serta pengalaman histories dan cultural dimana kata-kata itu terbentuk. Jikalau bahasa telah terislamisasi, maka pemikiran seseorang pun akan dengan mudah terislamisasi, karena bahasa dan keberadaan kata-kata kunci terminology inilah yang sesungguhnya mengatur daya pikiran seseorang.

Dalam buku Islam and Secularism, Naquib al-Attas menjelaskan bahwa Islamisasi ilmu pengetahuan dalam masa kini telah melibatkan dua proses yang saling berhubungan. Yang pertama ialah pemisahan elemen-elemen dan konsep-konsep kunci yang membentuk kebudayaan dan peradaban Barat dari setiap cabang ilmu pengetahuan masa kini, khususnya ilmu-ilmu humaniora.[7] Naquib  menyebut proses ini dengan sebutan The Dewesternization of Knowledge. Adapun element-element asing yang harus dipisahkan dan dieliminasi dari ilmu pada umumya mempunyai lima karakter yang saling berhubungan[8]:

a.       Mengandalkan kekuatan akal semata untuk membimbing manusia mengarungi kehidupan.

b.       Mengikuti dengan setia validitas pandangan dualistis mengenai realitas kebenaran.

c.       Membenarkan aspek temporal wujud yang memproyeksikan  suatu pandangan dunia secular.

d.       Pembelaan terhadap doktrin humanisme.

e.       Peniruan terhadap drama dan tragedy yang dianggap sebagai realitas yang universal dalam kehidupan spiritual, atau transensental, atau kehidupan batin manusia, yaitu dengan menjadikan drama dan tragedy sebagai elemen yang riil dan dominant dalam jati diri dan eksistensi manusia.

Kemudian, proses kedua setelah proses yang pertama selesai ialah pemasukan elemen-elemen Islam dan konsep-konsep kunci ke setiap cabang ilmu pengetahuan masa kini yang relevan. Inilah proses yang disebut The Islamization of Knowledge. Untuk itu syarat bagi seorang yang mengislamkan ilmu ialah seorang tersebut harus mampu mengidentifikasi pandangan hidup Islam, dan sekaligus mampu memahami budaya dan peradaban Barat. Pandangan hidup dalam Islam yang dimaksud disini ialah visi mengenai realitas dan kebenaran serta tidak berdasarkan kepada metode yang dikotomis seperti objektif, subjektif, normatif, dan historis. Namun realitas dan kebenaran yang dipahami ialah dengan melalui metode yang menyatukan (tauhid), yang mana pandangan hidup ini didukung oleh akal dan intuisi. Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas, jika tidak sesuai dengan pandangan-hidup Islam, maka fakta menjadi tidak benar. Selain itu, ilmu-ilmu modern harus diperiksa dengan teliti. Ini mencakup metode, konsep, praduga, simbol, dari ilmu modern; beserta aspek-aspek empiris dan rasional, dan yang berdampak kepada nilai dan etika; penafsiran historisitas ilmu tersebut, bangunan teori ilmunya, praduganya berkaitan dengan dunia, dan rasionalitas proses-proses ilmiah, teori ilmu tersebut tentang alam semesta, klasifikasinya, batasannya, hubung-kaitnya dengan ilmu-ilmu lainnya serta hubungannya dengan sosial harus diperiksa dengan teliti.

Al-Attas, bersama para pengkritik epistemology Barat lainnya, mengidentifikasikan nilai-nilai zaman pencerahan (enlightenment)-yaitu gerakan filsafat Prancis abad XVII sebagai nilai-nilai asasi dari sains dan tekhnologi modern. Dia mengakui Islam telah memberikan konstribusi yang sangat penting terhadap sains dan tekhnologi Barat pada tahap evolusinya yang awal, “tetapi ilmu dirumuskan dan dibentuk kembali untuk disesuaikan dengan wadah kebudayaan Barat, sehingga ia mengalami peleburan dan amalgamasi dengan semua element-element lain yang membentuk karakter dan personalitas peradaban Barat”.[9]

  1. Islamisasi ilmu Ismail Raji al-Faruqi

Al-Faruqi tidak secara pasti mengatakan bahwa titik pijaknya adalah “epistemologi Islam”. Ia agak berbeda Naquib Al-Attas, yang memandang perlunya untuk membangun konsep epistemologi Islam sebagai “pandangan dunia” (world view) Islam. Dia mengangap bahwa kelumpuhan ekonomi, politik, dan religio-kultural umat Islam terutama merupakan akibat dualisme system pendidikan di dunia muslim, hilangnya identitas, dan tidak adanya visi. Hal inilah yang membuat faruqi mengobati kegersangan intelektual dengan Islamisasi ilmu sebagai penawarnya.

Dalam bukunya Islamization of Knowledge, ia menyatakan bahwa umat Islam sedang mengalami malaise total di berbagai bidang. Keadaan umat Islam dimana-mana tampak berada di bawah bangsa lain.[10] Pandangan Ismail Raji al-Faruqi tentang Islamisasi ilmu dimuali dari pemaduan dua system pendidikan, yakni system pendidikan Islam dan secular.[11]

Islamisasi ilmu pengetahuan itu harus mengamati prinsip yang merupakan esensi Islam. Untuk menuang kembali disiplin-disiplin di bawah kerangka Islam, berarti membuat teori-teori, metode, prinsip-prinsip dan tujuan tunduk kepada[12]:

a.       keesaan Allah,

b.      kesatuan alam semesta,

c.       kesatuan kebenaran dan kesatuan pengetahuan,

d.      kesatuan hidup, dan

e.       kesatuan umat manusia.

Bagi Faruqi Allah menempati posisi sentral dalam setiap kedudukan, tindakan, dan pemikiran kaum muslim. Tauhid bagi al-Faruqi juga merupakan dasar bagi pengetahuan, sebab iman bukan hanya kategori etika semata, melainkan juga merupakan kategori kognitif. Ia dapat bertindak sebagai cahaya yang dapat menyinari segala sesuatu.[13] Ia juga termasuk tokoh yang percaya akan adanya hokum alam. Namun demikian, ia tetap menekankan kekuasaan dan kemutlakan Islam. Karena menurutnya, setelah menciptakan hokum-hukum alam, Tuhan tetap mengontrol dan mengendalikan alam semesta, sehingga tidak ada sesuatu di ala mini yang terjadi di luar kehendak dan perintah-Nya. Ini berarti Ia memandang bahwa Tuhan tetap aktif dan dinamis.[14]

Untuk mewujudkan proyek islamisasi ilmu, al-Faruqi merancang beberapa rencana yang dibagi dalam lima langkah, yaitu[15]:

a.       Penguasaan disiplin ilmu modern.

b.      Penguasaan khazana Islam.

c.       Penguasaan relevansi Islam bagi masing-masing bidang ilmu modern.

d.      Pencarian sintesa kreatif antara khazanah Islam dengan ilmu modern.

e.       Pengarahan aliran pemikiran Islam ke jalan-jalan yang mencapai pemenuhan pola rencana Allah.

Betapa pun pengetahuan Barat yang selama ini masih mendominasi di dunia pemikiran  harus selayaknya “dibongkar” agar bisa setara dengan pengetahuan di luarnya. Di tengah memudarnya pesona modernitas dan hancurnya sendi-sendi moralitas, gerakan Islamisasi ilmu ini bisa menjadi salah satu alternatif bagi upaya “penyembuhan” bagi kelemahan pengetahuan dunia selama ini. Sekalipun istilah Islamisasi adalah baru, namun konsep yang terkandung di dalam kata tersebut bukanlah baru. Al-Quran, misalnya telah mengislamkan sejumlah kosa-kata Arab yang digunakan pada saat itu. Al-Quran mengislamkan struktur-struktur konseptual, bidang-bidang semantik dan kosa kata. Khususnya istilah-istilah dan konsep-konsep kunci, yang digunakan untuk memproyeksikan hal-hal yang bukan dari pandangan hidup Islam. Pada zaman pertengahan, Islamisasi telah dilakukan khususnya oleh para teolog Muslim seperti al-Ghazali, Fakhruddin al-Razi, Sayfuddin al-Amidi dan lain-lain. Dengan pengetahuan Islam yang mendalam, mereka menyaring filsafat Yunani kuno untuk disesuaikan dengan pemikiran Islam. Sebagai hasilnya, ada hal-hal dari filsafat Yunani kuno yang diterima dan ada juga yang ditolak.

Ringkasnya, gagasan Islamisasi ilmu kontemporer yang diformulasikan Syed Muhammad Naquib al-Attas dan al-Faruqi merupakan suatu revolusi epistemologis yang merupakan merupakan jawaban terhadap krisis epistemologis yang melanda bukan hanya dunia Islam tapi juga budaya dan peradaban Barat.

  1. Kritik atas Islamisasi ilmu pengetahuan.

Konsep Islamisasi ilmu pengetahuan menuai kritik dari beberapa pemikir Muslim kontemporer seperti Fazlur Rahman, Muhsin Mahdi, Abdus Salam, Abdul Karim Soroush dan Bassam Tibi. Menurut Fazlur Rahman, ilmu pengetahuan tidak bisa diislamkan karena tidak ada yang salah di dalam ilmu pengetahuan. Masalahnya hanya dalam menyalahgunakan. Bagi Fazlur Rahman, ilmu pengetahuan memiliki dua kualitas, seperti  senjata bermata dua  yang harus digunakan dengan hati-hati dan bertanggung jawab sekaligus sangat penting menggunakannya secara benar ketika memperolehnya.

Fazlur Rahman tepat dengan menyatakan ilmu pengetahuan akan tergantung kepada cara menggunakannya. Bagaimanapun, Fazlur Rahman tampaknya mengabaikan jika konsep dasar mengenai ilmu pengetahuan itu sendiri telah dibangun di atas pandangan-hidup tertentu. Konsep mengenai Tuhan, manusia, hubungan antara Tuhan dan manusia, alam, agama, sumber ilmu akan menentukan cara seseorang memandang ilmu pengetahuan.

Selain itu, pemikiran sekular tampaknya juga hinggap dalam pemikiran Fazlur Rahman. Hal ini tampak jelas, ketika ia berpendapat ilmu tidak perlu mencapai tingkat finalitas atau keyakinan. Ia menyatakan:  Jelas bukan suatu keharusan penafsiran tertentu sekali diterima harus selalu diterima; akan selalu ada ruang dan keharusan untuk penafsiran-penafsiran baru, dan ini sebenarnya proses yang terus berlanjut.

Berbeda dengan Fazlur Rahman, Syed Muhammad Naquib al-Attas menegaskan ilmu pengetahuan dalam hal-hal yang yakin, adalah final, tidak terbuka untuk direvisi oleh generasi kemudian, selain elaborasi dan aplikasi. Penafsiran baru hanya benar terkait dengan aspek-aspek ilmiah al-Quran dan fenomena alam.

Pada umumnya, para pengkritik Islamisasi ilmu berpendapat sains adalah mengkaji fakta-fakta, objektif dan independent dari manusia, budaya atau agama, dan harus dipisahkan dari nilai-nilai. Abdus Salam, misalnya, menyatakan: Hanya ada satu sains universal, problem-problemnya dan bentuk-bentuknya adalah internasional dan tidak ada sesuatu seperti sains Islam sebagaimana tidak ada sains Hindu, sains Yahudi atau sains Kristen.

Pernyataan Abdus Salam menunjukkan tidak ada yang namanya sains Islam. Pernyataan sekular ini menunjukkan bahwa Abdus Salam menceraikan pandangan-hidup Islam menjadi dasar metafisis kepada sains. Padahal, pandangan-hidup Islam akan selalu terkait dengan pemikiran dan aktifitas seorang saintis. Pernyataan Abdus Salam diatas menunjukkan hasil pemikiran seorang saintis Muslim sekular.

Kritikan terhadap Islamisasi ilmu pengetahuan juga diajukan oleh Abdul Karim Sorush. Ia menyimpulkan Islamisasi ilmu pengetahuan adalah tidak logis atau tidak mungkin (the impossibility or illogicality of Islamization of knowledge). Alasannya, Realitas bukan Islami atau bukan pula tidak Islami. Kebenaran untuk hal tersebut bukan Islami atau bukan pula tidak Islami. Oleh sebab itu, Sains sebagai proposisi yang benar, bukan Islami atau bukan pula tidak Islami. Para filosof Muslim terdahulu tidak pernah menggunakan istilah filsafat Islam. Istilah tersebut adalah label yang diberikan oleh Barat (a western coinage). Mengelaborasi ringkas argumentasinya, Abdul Karim Sorush menyatakan;

a.  metode metafisis, empiris atau logis adalah independent dari Islam atau agama apa pun. Metode tidak bisa diislamkan.

b. Jawaban-jawaban yang benar tidak bisa diislamkan. Kebenaran adalah kebenaran dan kebenaran tidak bisa diislamkan.

c.  Pertanyaan-pertanyaan dan masalah-masalah yang diajukan adalah mencari kebenaran, sekalipun diajukan oleh non-Muslim.

d.  Metode yang merupakan presupposisi dalam sains tidak bisa diislamkan.

Pandangan-alam yang terkandung dalam argumentasi Abdul Karim Sorush adalah realitas sebagai sebuah perubahan. Ilmu pengetahuan dibatasi hanya kajian terhadap fenomena yang berubah. Padahal, realitas adalah tetap dan berubah. Dalam pandangan Syed Muhammad Naquib al-Attas, reality is at once both permanence and change, not in the sense that change is permanent, but in thes sense that there is something permanent whereby change occurs.

Islamisasi ilmu pengetahuan juga dianggap sebagai pribumisasi (indigenization), sebagaimana dinyatakan oleh Bassam Tibi. Ia memahami Islamisasi ilmu sebagai tanggapan dunia ketiga kepada klaim universalitas ilmu pengetahuan Barat. Islamisasi adalah menegaskan kembali (nilai-nilai) local untuk menentang ilmu pengetahuan global yang menginvasi. Namun, pemahaman Bassam Tibi tentang Islamisasi sebagai pribumisasi yang terkait dengan lokal tidaklah tepat. Islamisasi bukanlah memisahkan antara lokal menentang universal ilmu pengetahuan Barat. Pandangan Bassam Tibi terhadap Islamisasi ilmu muatannya lebih politis dan sosiologis. Hanya karena ummat Islam berada di dalam dunia berkembang dan Barat adalah dunia maju, maka gagasan Islamisasi ilmu merupakan gagasan lokal yang menentang gagasan global. Padahal, munculnya Islamisasi ilmu pengetahuan disebabkan perbedaan pandangan-alam antara Islam dan agama atau budaya lain berbeda. Islamisasi bukan saja mengkritik budaya dan peradaban global Barat. Ia juga mentransformasi bentuk-bentuk lokal, etnik supaya sesuai dengan pandangan-alam Islam. Islamisasi adalah menjadikan bentuk-bentuk budaya, adat, tradisi dan lokalitas universal agar sesuai dengan agama Islam yang universal.

C. PENUTUP

Islamisasi ilmu merupakan sebuah respon dari para intelektual muslim terhadap dunia yang semakin sarat dengan keterpurukan nurani, dimana iman dikesampingkan dan pandangan hidup secular menjadi raja dalam pemikiran di masa modern. Naquib al-Attas dan al-Faruqi adalah diantara tokoh muslim yang mengajukan gagasan atau ide Islamisasi ilmu guna menjawab sekularisme tersebut. Keduanya sama-sama mengedepankan konsep tauhid (keesaan Allah) dalam mengislamkan ilmu pengetahuan. Bedanya jika Naquib al-Attas mengedepankan pandangan hidup dalam Islam, yakni visi mengenai realitas dan kebenaran serta tidak berdasarkan kepada metode yang dikotomis seperti objektif, subjektif, normatif, dan historis. Realitas dan kebenaran yang dipahami disini ialah dengan melalui metode yang menyatukan (tauhid), yang mana pandangan hidup ini didukung oleh akal dan intuisi. Sedangkan al-Faruqi mengedepankan dua system pendidikan, yakni system pendidikan Islam dan secular.

Adanya Islamisasi ilmu ini juga menuai kritik dari beberapa pemikir muslim lainnya, yang diantaranya adalah Fazlur Rahman, Muhsin Mahdi, Abdus Salam, Abdul Karim Soroush dan Bassam Tibi. Hal ini dikarenakan ilmu pengetahuan  merupakan suatu pengetahuan yang berdiri sendiri (independent) yang dikaji sesuai fakta-fakta yang kebenarannya bersifat objektif. Jadi menurut mereka ilmu pengetahuan tidak bisa diislamkan, karena memang tidak ada yang salah dalam ilmu pengetahuan, yang salah ialah penerapannya. Samahalnya juga bila memang ada Islamisasi ilmu , maka kemungkinan juga terdapat Kristenisasi imu pengetahuan, Hinduisasi ilmu pengetahuan, dll. Maka dari itu adanya Islamisasi ilmu ini mengundang kritik-kritik yang tajam, bahkan dari para cendekiawan muslim sendiri banyak yang tidak menyetujuinya.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Attas. Islam and Secularism.

Alatas, Fajrie, Ismail. 2006. Risalah Konseptual Ilmu dalam Islam.Jakarta: Diwan.

Bakar, Osman. 1994. Tauhid dan Sains. Bandung: Pustaka Hidayah.

Purwadi, Agus. 2002. Teologi Filsafat dan Sains. Malang: UMM-Press.

Saefuddin, Didin. 2003. Pemikiran Modern dan Postmodern Islam. Jakarta: PT. Grasindo.

Sardar, Ziauddin. 1998. Juhad Intelektual. Surabaya: Risalah Gusti.

http://www.acehinstitute.org/front_index.htm

http://kammirema.wordpress.com/

http://elhasyimie.multiply.com/reviews/item/13

http://Islamisasi Ilmu 2\socio_6b.htm


[1] Agus Purwadi, Teologi Filsafat dan Sains, (Malang: UMM-Press, 2002), hal.86.

[2] Ibid., hal. 88.

[3] Osman Bakar, Tauhid dan Sains, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1994), hal.234.

[4] Lihat, Ismail Fajrie Alatas, Risalah Konseptual Ilmu dalam Islam (Jakarta: Diwan, 2006), hal.279.

[5] Lihat, Ibid., hal.280-282.

[6] Ibid., hal.280.

[7] Al-Attas, Islam and Secularism, hal.162.

[8] Ismail Fajrie Alatas, Op.Cit., hal.283.

[9] Ziauddin Sardar, Juhad Intelektual, (Surabaya: Risalah Gusti, 1998), hal.43.

[10] Didin Saefuddin, Pemikiran Modern dan Postmodern Islam, (Jakarta: PT. Grasindo, 2003), hal.162.

[11] Ibid., hal.163.

[12] Lihat, Ibid., hal.163-164.

[13] Ibid., hal.164.

[14] Lihat, Ibid., hal.166.

[15] Ibid., hal.167-168.


About this entry