JEAN-PAUL SARTRE

Oleh  : Bona Pablo

A. PENDAHULUAN

Sartre merupakan eksponen utama eksistensi ateis. Ia seorang novelis, kritikus, dan juga filosof. Dia adalah filosof eksistensialisme, hal paling utama yang menjadi pikirannya adalah tentang kebebasan manusia dimana dengan adanya kebebasan tersebut manusia bisa menunjukkan eksistensi dirinya sebagai manusia. Kata eksistensialisme berasal dari kata “eks” yang berarti keluar, dan “sintesi” atau “sisto” yang berarti berdiri atau menempatkan. Jadi eksistensialisme secara umum berarti manusia dalam keberadaannya itu sadar bahwa dirinya ada dan segala sesuatu keberadaannya ditentukan oleh akunya.[1]

Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang memandang berbagai gejala dengan berdasar pada eksistensinya. Artinya, bagaimana manusia berada (bereksistensi) dalam dunia. Di bawah ini saya akan membahas tokoh eksistensialisme Jean-Paul Sartre beserta pemikirannya mengenai eksistensi manusia.

B. JEAN-PAUL SARTRE

Jean-Paul Sartre lahir di Paris pada tanggal 21 Juni 1905. Ayahnya perwira angkatan laut Prancis, dan Anne Marie Schweitzer (ibunya) adalah anak bungsu dan satu-satunya anak perempuan dari Charles Schweitzer, seorang Protestan, guru bahasa dan sastra Jerman di daerah Alsace.[2] Ayah Sartre meninggal ketika ia masih berumur dua tahun. Akhirnya ibu Sartre bersama anak-anaknya yang beragama Katolik, memilih pulang ke rumah Charles Schwitzer (kakek Sartre) di Meudon, empat tahun kemudian mereka pindah ke Paris.

Sartre belajar pada Ecole Normale Superieur pada tahun 1924-1928. setelah tamat sekolah (1929) ia mengajarkan filsafat di beberapa Lycees, baik di Paris maupun di tempat lain. Dari tahun 1933-1935 Sartre menjadi mahasiswa peneliti pada Institute Francais di Berlin dan di Universitas Freiburg. Pada tahun 1939 novelnya terbit dengan judul La Nausee, dan Le Mur terbit pada tahun 1939.[3] Sejak saat itu Sartre mulai aktif menulis terutama mengenai masalah filsafat.

Selama perang dunia kedua ia menjadi tentara, selama sembilan bulan menjadi tahanan perang di Jerman. Setelah dibebaskan ia bekerja pada Resistance Movemenent. Ketika perang berakhir ia menjadi editor Les Temps Modernes,[4] ulasan bulanan yang mengabdikan diri pada kepentingan-kepentingan sosialis eksistensialis. Pada tahun 1964 ia diberi penghargaan hadiah Nobel untuk literature, tetapi ia menolak. Sartre secara positif sangat aktif setelah Revolusi Mei 1968.[5] Karya filsafat utama yang terakhirnya adalah Critique of Dialektical Reason, dan novel tiga serangkainya Roads to Freedom yang dianggap karya literature abad 20. Sartre meninggal pada tanggal 15 April 1980, setelah dirawat selama satu bulan di rumah sakit.

Bagi Sartre eksistensi, manusia mendahului esensinya. Eksistensialisme membicarakan cara berada di dunia ini, terutama cara berada manusia. Dengan kata lain filsafat menempatkan wujud-wujud manusia sebagai tema sentral pembahasannya. Cara itu hanya khusus ada pada manusia karena hanya manusialah yang bereksistensi, yang bisa menunjukkan keberadaannya dengan bertindak. Menurut eksistensialisme, manusia mendahului esensinya. Hal ini berbeda dengan tumbuhan, hewan, dan bebatuan yang esensinya  mendahului eksistensinya, itupun jika mereka tersebut (selain manusia) mempunyai eksistensi.

Sartre mengatakan: “eksistensi yang ateis, yang saya adalah salah seorang tokohnya, menyatakan bahwa bila Tuhan tidak ada, maka tinggal satu yang ada yang eksistensinya mendahului esensinya, suatu ada yang adanya sebelum ia dapat dikenal dengan suatu konsep tentang dirinya. Itu adalah manusia, yang oleh Hiedegger disebut realitas manusia. apa yang kita maksud dengan mengatakan eksistensi mendahului esensi pada manusia? Kita maksudkan bahwa manusia adalah yang pertama dari semua yang ada, menghadapi dirinya, menghadapi dunia, dan mengenal dirinya sesudah itu. Bila manusia sebagai seorang eksistensialis melihat dirinya sebagai tidak dapat dikenal, itu karena ia mulai dari ketiadaan. Dia tetap tidak akan ada, sampai suatu ketika ia ada seperti yang diperbuatnya terhadap dirinya. Oleh karena itu, tidaklah ada kekhususan kemanusiaan karena tidak ada Tuhan yang mempunyai konsep tentang manusia. (Struhl den Struhl).[6] Bagi Sartre formula ini sangat penting karena bila eksistensi manusia mendahului esensinya, berarti manusia harus bertanggung jawab untuk apa ia ada. Perumusan bahwa pada manusia eksistensi mendahului esensi, menurut Sartre, menunjukkan dengan baik intisari aliran eksistensialisme (dalam eksistensialisme adalah suatu humanisme).[7]

Sartre berpendapat bahwa manusia mula-mula sadar bahwa ia ada, ini berarti manusia menyadari bahwa ia mengahadapi masa depan, dan ia sadar ia berbuat demikian. Hal ini menekankan suatu tanggung jawab pada manusia. Inilah yang dianggap pelajaran pertama dan utama dari filsafat eksistensialisme. Bila manusia itu bertanggung jawab atas dirinya sendiri, itu bukan berarti ia bertanggung jawab hanya pada dirinya sendiri, tetapi juga pada seluruh manusia.[8] Terlihat bahwa pendapat Sartre tentang eksistensi manusia bukan sekedar hendak menjelaskan keadaan beradanya manusia di tengah manusia dan bukan manusia, lebih dari itu ia hendak menjelaskan tanggung jawab yang seharusnya dipikul manusia.

Sartre adalah filosof ateis. Itu dinyatakannya secara terang-terangan. Konsekuensi pandangan ateis itu adalah Tuhan tidak ada, atau manusia bukanlah ciptaan Tuhan. Oleh karena itu, konsepnya tentang manusia ialah bukan makhluk Tuhan. Dikatakan oleh orang bahwa Tuhan ini sudah cukuplah bagi diri sendiri (jadi sebagai suatu hal) dan sebaliknya ia pun kesadaran. Tetapi hal yang demikian itu mengandung kemustahilan, maka dari itu mustahillah ada Tuhan.[9] Dari model pemikiran inilah ia menemukan bahwa eksistensi manusia mendahului esensinya.

Eksistensi manusia menunjukkan kesadaran manusia, dari konsep inilah muncul ciri lain hakekat keberadaan manusia yang juga menaungi kebebasan manusia. Dalam filsafat Sartre “kebebasan” merupakan suatu kata kunci. Manusia adalah kebebasan, manusia bisa didefinisikan sebagai kebebasan karena pada dasarnya manusia menunjuk pada hal yang sama, yakni manusia adalah makhluk yang bereksistensi.[10] Kebebasan manusia tampak dalam kecemasan. Sartre membedakan ketakutan (fear) dengan kecemasan (anxiety). Ketakutan mempunyai suatu obyek, benda-benda alam dunia. Misalnya ketakutan kita akan juga yang tepat di depan kita, jurang itu merupakan objek yang membuat kita takut. Sedangkan kecemasan menyangkut diri manusia sendiri dengan menyatakan bahwa eksistensi manusia seluruhnya bergantung pada manusia. Sebagai contoh, perasaan cemas manusia akan jatuh ke jurang, manusia mengalami kecemasan. Jadi perbedaan antara ketakutan dan kecemasan ada pada subjek dan objeknya. Ketakutan mengenai objek, sedangkan kecemasan mengenai subjek.

Manusia itu merdeka, bebas. Oleh karena itu, ia harus bebas menentukan, memutuskan. Dalam menentukan, memutuskan ia bertindak sendirian tanpa orang lain yang menolong atau bersamanya. Ia harus menentukan untuk dirinya dan untuk seluruh manusia. Oleh karena itu, menurut Sartre manusia itu solider, bukan soliter. Kenyataan manusia adalah nasibnya diserahkan kepada dirinya sendiri dengan tiada bantuan sedikit pun. Manusia pada hakekatnya harus memutuskan. Karena tanggung jawab, maka manusia harus berani mengambil keputusan. Manusia harus berbuat dan harus pula mengingkari hasilnya. Ini hukuman. Keadaan inilah yang menimbulkan rasa muak (la nausee).

Manusia itu selalu berubah, selalu meluncur, dan selalu menuju kepada. Manusia hidup dalam suatu konstruksi buatannya sendiri. Manusia menjalankan eksistensinya dalam konstruksi itu. Manusia telah membuat hukum, aturan, dan konvensi. Dengan ini sesuatu diberi nama, diberi tujuan. Manusia menjalankan eksistensinya dalam perbuatan. Perbuatan itu tindakan, syarat utama dapat bertindak ialah adanya kemerdekaan. Oleh karena itu Sartre menghantam bentuk determinisme. Menurut Sartre, semua itu non sens. Jika aku menjerumuskan kesusilaanku, itu karena aku mau. Jika aku tidak mau, tidak berdayalah dorongan-dorongan yang ada dalam badanku. Jika aku jatuh cinta, itu karena aku memilih jatuh cinta. Sartre mengatakan ke-apa-an manusia bergantung pada kemauannya yang berasal dari kemerdekaannya. Salanjutnya Sartre menjelaskan itu harus diartikan merdeka dalam keterbatasannya artinya merdeka dalam kondisinya. Orang lumpuh merdeka dalam kelumpuhannya, orang yang hidup dalam sel penjara merdeka dalam keadaannya. Hidup bersama itu adalah suatu kemestian sebab manusia hanya dapat menjalani dirinya sebagai manusia bila dan dalam mengalaminya dengan manusia yang lain.[11] Sartre juga menjelaskan bahwa karena kemerdekaan itu pula manusia harus mempertanggungjawabkan semua tindakannya. Dengan begitu manusia telah membuktikan bahwa dirinya ada, inilah eksistensi manusia.

C. PENUTUP

Sebagaimana pembahasan diatas, maka kita bisa mengambil suatu keismpulan bahwa eksistensialisme adalah nama sebuah aliran dalam filsafat yang mengedepankan pribadi manusia sebagai subjek. Jean-Paul Sartre adalah tokoh eksistensialisme yang telah dibahas diatas. Karena pemikirannya, ia menajadi seorang ateis yang menentang adanya Tuhan.

Eksistensialisme mengedepankan bagaimana manusia berbuat, bertindak, dan melakukan sesuatu. Sebab dengan melalui tindakan, manusia bisa menunjukkan eksistensinya sebagai manusia. Diantara contoh tindakan manusia adalah mengambil keputusan. Manusia harus berani mengambil keputusan untuk membuktikan dirinya. Dengan begitu terlihat bahwa manusia mempunyai kebebasan dan kesadaran untuk memilih. Inilah eksistensi manusia. Namun demikian, untuk mengimbangi sebuah kesadaran dan kemerdekaan dalam memilih manusia tetap dikenai tanggung jawab sebagai bentuk pertahanan akan eksistensinya.

DAFTAR PUSTAKA

Ø      Ahmadi, Asmoro. 2007. Filsafat Umum. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Ø      Bertens, K. 2001. Filsafat Barat Kontemporer Prancis. Jakarta: Gramedia.

Ø      Collinson, Diane. 2001. Lima Puluh Filosof Dunia Yang Menggerakkan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Ø      Osborne, Richard. 2001. Filsafat Untuk Pemula. Yogyakarta: Kanisius.

Ø      Poedjawijatna. 2005. Pembimbing ke Arah Alam Filsafat. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Ø      Tafsir, Ahmad. 2004. Filsafat Umum. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Filsafat IAIN Sunan Ampel Surabaya semester III


[1] Asmoro Ahmadi, Filsafat Umum, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007), hal.127.

[2] K. Bertens, Filsafat Barat Kontemporer Prancis, (Jakarta: Gramedia, 2001), hal. 81.

[3] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2004), cet.XIII, hal.224.

[4] Les Temps Modernes (zaman-zaman Modern), adalah nama majalah yang didirikan Sartre beserta M.Merleau dan S.de Beauvoir sebagai teman-teman redaksinya. Majalah ini mulai terbit pada tahun 1945 sebagai majalah yang berhaluan kiri yang berusaha memberikan tanggapan tentang semua kejadian dan perkembangan penting di bidang cultural dan politik.

[5] Diane Collinson, Lima Puluh Filosof Dunia, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), hal.232.

[6] Ahmad Tafsir, Op.Cit., hal.226.

[7] K. Bertens, Op.Cit., hal.97.

[8] Ahmad Tafsir, Op.Cit, hal.226.

[9] Poedjawijatna, Pembimbing ke Arah Alam Filsafat, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2005), cet.XII, hal. 148.

[10] Lihat, K. Bertens, Op.Cit., hal. 96-97.

[11] Lihat, Ahmad tafsir, Filsafat Umum, hal. 230-231.


About this entry